Thursday, July 12, 2012

RITUAL SAKRAL BUDAYA SUKU SASAQ LOMBOK

UAPACARA TRADISIONAL masyarakat suku Sasak di Lombok seperti cukuran bayi, khitanan atau pengantin. Ada pula upacara kematian dan upacara agama.
Di sana kita sering temukan ada piranti tradisional seperti beras kuning, kemenyan, gula kelapa dan lain-lain.
Mari kita coba telusuri pilosofi apa sebenarnya pada benda-benda tersebut. Apa pilosofi yang lahir dari kearifan rakyat jelata ini sebenarnya. Kita lihat misalnya :

BERAS KUNING
Beras kuning yang dicampur dengan bunga setaman dan beberapa uang, biasa dihadirkan pada aneka upacara (ritus) kehidupan. Misalnya pada upacara selamatan rumah, cukuran bayi (ngurisan), khitanan, pengantin dan agama. Berlandaskan pikiran-pikiran kuno yang animistik, dinamistik atau mungkin hinduistik, kita lalu cepat menapsirkan bahwa, benda-benda tersebut semacam umpan atau santunan kepada roh halus, agar tidak mengganggu hajat mahluk manusia.
Benda-benda tersebut di atas semacam korban ritus untuk ruwatan. Hal itu merupakan tebusan kepada para roh pengganggu atau sang kumilit-kumalat untuk membuat mereka menjadi tentram, sehingga tak bernapsu untuk mengacaukan aktivitas manusia. Dalam kehidupan masa lalu, memang amat mungkin itikad semacam itu pada kalangan masyarakat suku Sasak.
Ada sesaji-sesaji untuk arwah orang yang telah meninggal dalam bentuk “sesaji pelayaran”. Ada pula sesaji untuk hantu pengganggu bumi, penunggu pohon yang akan ditebang atau bukit yang akan digalas. Itikad untuk memberi korban dalam kaitan ritus tersebut bisa juga terjadi, karena kesalahpahaman atau keawaman pelakunya.
Sekarang coba kita lihat sekaligus menyimak apa yang diterangkan oleh para Kyai Sasak mengenai piranti upacara beras kuning. Beras kuning dalam tradisi suku Sasak disebut Moto Siong, gula kelapa, gula merah dan kelapa. Apa makna simbolisnya?
Beras kuning adalah lambing keagungan, pangkat tinggi dan kedudukan. Beras ditaburkan sebagai peringatan agar, si bayi (umpamanya dalam upacara ngurisan), kelak tidak tergoda atau terhanyut oleh godaan keagungan. Lalu ada pula bunmga setaman. Bunga setaman ini memiliki sifat yang harum, memberi kelenaan. Ada pesona yang ada di sana. Kenikmatan memandang serta mengendusnya.
Nah, itulah simbul sifat wanita. Ada lagi uang logam. Namun sekarang, tak mesti pakai uang logam. Uang kertas pun jadi. Karena uang ini, merupakan simbul harta kekayaan. Diharapkan agar anak atau manusia yang sudah diupacarakan itu, tidak perlu terperangkap oleh pesona harta benda semata.
Gula merah dan kelapa, menghantarkan komposisi warna simbolis merah dan putih. Merah adalah warna darah sebagai warna kehidupan. Dan warna putih adalah warna nuftah cikal bakal sang jabang bayi. Dus ajarannya adalah, agar manusia selalu sadar serta ingat aka asal mula kejadiannya. Ingat akan fitrahnya, kemudian ingat akan tugas yang diemban sebagai satu-satunya mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini.
Konon bumi, langit, samudera luas, gunung dan bintang-bintang, tidak sanggup mengemban amanat Tuhan yang amat berat itu. Namun manusia menyatakan siap memikulnya. Perjanjian gaib dan suci sebelum kita dilahirkan, semuanya tertulis di Laukhil Mahfuz. Demikian tutur para Kyai kita dalam naskah-naskah kuno.

MENYAN(KEMENYAN)
Hampir semua orang sekarang mengangap bahwa, membakar kemenyan sewaktu ada hajat rowahan adalah syirik, atau perbuatan animisme. Penulis sendiri pernah sesekali dengan sengaja mengamatinya dan mencoba untuk bertanya. Jawabannya seperti ini; “Harum-haruman (diantaranya karena asap kemenyan) adalah, sadakah. Memberi bau yang harum itu sunah hukumnya. Sebagai tambahan pula, sebagaimana diketahui secara nyata (bukian hanya tiori saja) bahwa, dulu tata cara orang kampung Sasak (petani) itu, berbaur dengan kandang ternak dan unggas. Maka apabila ada hajatan, merupakan hal yang pantas, kalau orang kemudian membakar kemenyan untukmenutupi bu apek dari kandang sapi atau kandang itik di dekat rumah sang empunya hajat.
Kesimpulnnya, kalau mau pakai minyak pengharum (minyak pender) atau pengharum lainnya, pasti harganya mahal. Nah, bukankah ini merupkan kearifan yang hebat dalam konsep-konsep tradisional kita? Dan apabila kita sudah hidup dalam gedung-gedung mewah dan bersih yang sudah dip el menggunakan bahan pembersih lantai merek terkenal,… Ya bakan kemenyan memang jadi tidak mustahil lagi.


AIR KUM-KUMAN
Ada lagi yang namanya air kum-kuman, yaitu air yang diisi dengan bunga setaman. Air ini gunanya untuk membasuh kepala anak yang akan dicukur atau pembasuh tangan orang yang akan membaca al-quran, hikayat Nabi, lontar dan lain-lain yang dianggap sakral.
Syirikkah ini? Atau kita biarkan bekas tangan orang yang baru saja selesai makan ‘begibung’, lalu mengelus kepala bayi kita yang akan dicukur? Kita biarkan tangan berbau nikotin tembakau atau rokok pilitan, lalu memegang al-quran atau berjanzi? Mana yang lebih arif dengan air kum-kuman itu atau tak perlu mencuci tangan, sebab itu barang bid’ah? Memang masih banyak lagi benda-benda sebagai simbul yang belum dipahami dan perlu dijelaskan.

Bagaimana menurut anda ?

No comments:

Post a Comment