Friday, December 21, 2012

MENGHADAPI DUNIA GLOBAL


Nasionalisme berarti paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri, politik untuk membela pemerintah sendiri, atau kesadaran keanggotaan suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan indentitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan serta semangat bangsa.

Dulu, ketika bangsa ini masih menghadapi penjajahan Belanda dan Jepang, nasionalisme kita begitu melekat pada seluruh anak bangsa. Nasionalisme saat itu digunakan sebagai landasan untuk berjuang demi kemerdekaan dan melepaskan diri dari belenggu penjajah yang menguasai Indonesia beberapa abad lamanya.
Kini, diakui atau tidak nasionalisme bangsa saat ini hanya dimiliki oleh sebagian komponen bangsa Indonesia. seperti tentara, polisi, sebagian pejabat pemerintah, dan sebagian kecil rakyat Indonesia. Mengapa ini bisa terjadi? Semua itu karena adanya perubahan zaman.

Perubahan zaman telah mengikis nasionalisme kita sampai ke tingkat yang paling mengkhawatirkan. Pengikisan nasionalisme yang seharusnya melekat pada setiap sendi kehidupan anak bangsa ini, dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya; Pertama, berkembangnya pemahaman keliru bahwa yang mempunyai kewajiban membela bangsa dan negara adalah tentara (komponen utama pertahanan).

Kedua, hilangnya sikap antisipasi dan besarnya keyakinan bahwa Indonesia tidak mungkin akan mendapat ancaman sampai dengan 10 tahun ke depan. Ketiga, krisis ekonomi yang berkepanjangan membuat rakyat lebih suka berpikir bagaimana mencukupi kebutuhannya, daripada repot-repot memikirkan sebuah nasionalisme.
Keempat, terdapat gerakan-gerakan tersembunyi yang berupaya mengubah pola pikir rakyat, untuk selalu tidak puas terhadap kebijakan dan keputusan pemerintah, sehingga menghilangkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah, selanjutnya berkembang menjadi krisis kepercayaan pada diri sendiri.

Melihat kondisi bangsa yang semakin meninggalkan nasionalisme sebagai hal yang pokok dan harus dimiliki oleh bangsa ini, maka seluruh komponen bangsa khususnya yang masih memiliki jiwa nasionalisme tinggi, hendaknya mengampanyekan sekaligus mengajak dan mengimbau seluruh komponen bangsa untuk menggelorakan kembali rasa nasionalisme. Penurunan kadar nilai-nilai nasionalisme, cinta tanah air, bela negara dan militansi bangsa di dalam berbagai kehidupan rakyat patut kita renungkan bersama.

Setiap tanggal 14 Pebruari ada hiruk pikuk remaja dunia. Mereka punya hajat besar dengan merayakan sebuah hari yang dikenal dengan Valentine’s Day (Hari Valentine). Hiruk pikuk itu kini tidak lagi menjadi milik bangsa ataupun pemeluk agama tertentu namun telah menjadi gawe semua lapisan remaja dimanapun dan dengan agama apapun. Tak peduli itu di kalangan Kristen Barat, Hindu India ataupun muslim Indonesia. Valentine’s Day menjadi milik bersama dan setiap orang seakan wajib untuk merayakannya.
Ada pertanyaan yang patut kita kemukakan. Apa sebenarnya Valentine’s Day itu? Apakah esensinya? Dan bolehkan remaja muslim ikut berkecimpung merayakannya? Apakah perayaan itu bagian dari kultur dan peradaban Islam sehingga kita harus ikut menyemarakkannya?

Hari Valentine umat islam ?
Ada berbagai versi tentang asal muasal Valentin’s Day ini. Beberapa ahli mengatakan bahwa ia berasal dari seorang yang bernama Saint (Santo) Valentine seorang suci kalangan Kristen yang menjadi martir karena menolak untuk meninggalkan agama Kristiani. Dia meninggal pada tanggal 14 Pebruari 269 M., di hari yang sama saat dia menyerahkan ucapan cinta. Dalam legenda yang lain disebutkan bahwa Saint Valentine meninggalkan satu catatan selamat tinggal pada seorang gadis anak sipir penjara yang menjadi temannya. Dalam catatan itu dia menuliskan tanda tangan yang berbunyi “From Your Valentine” ada pula yang menyebutkan bahwa bunyi pesan akhir itu adalah ; Love From Your Valentine”.

Cerita lain menyebutkan bahwa Valentine mengabdikan dirinya sebagai pendeta pada masa pemerintahan Kaisar Claudius. Claudius kemudian memenjarakannya karena dia menentang Kaisar. Penentangan ini bermula pada saat Kaisar berambisi untuk membentuk tentara dalam jumlah yang besar. Dia berharap kaum lelaki untuk secara suka rela bergabung menjadi tentara. Namun banyak yang tidak mau untuk terjun ke medan perang. Mereka tidak mau meninggalkan sanak familinya. Peristiwa ini membuat kaisar naik pitam. Lalu apa yang terjadi? Dia kemudian menggagas ide “gila”. Dia berpikiran bahwa jika laki-laki tidak kawin, maka mereka dengan tidak segan-segan akan bergabung menjadi tentara. Makanya, dia memutuskan untuk tidak mengijinkan laki-laki kawin.

Kalangan remaja menganggap bahwa ini adalah hukum biadab. Valentine juga tidak mendukung ide gila ini. Sebagai seorang pendeta dia bertugas menikahkan lelaki dan perempuan. Bahkan setelah pemberlakuan hukum oleh kaisar, dia tetap melakukan tugasnya ini dengan cara rahasia dan ini sungguh sangat mengasyikkan. Bayangkan, dalam sebuah kamar hanya ada sinar lilin dan ada pengantin putra dan putri serta Valentine sendiri.Peristiwa perkawinan diam-diam inilah yang menyeret dirinya ke dalam penjara dan akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Walaupun demikian dia selalu bersikap ceria sehingga membuat beberapa orang datang menemuinya di dalam penjara. Mereka menaburkan bunga dan catatan-catatan kecil di jendela penjara. Mereka ingin dia tahu bahwa mereka juga percaya tentang cinta dirinya. Salah satu pengunjung tersebut adalah seorang gadis anak sipir penjara. Dia mengobrol dengannya berjam-jam. Di saat menjelang kematiannya dia menuliskan catatan kecil “Love from your Valentine.”

Dan pada tahun 496 Paus Gelasius menseting 14 Pebruari sebagai tanggal penghormatan buat Saint Valentine. Akhirnya secara gradual 14 Pebruari menjadi tanggal saling tukar menukar pesan kasih dan Saint Valentine menjadi patron dari para penabur kasih. Tanggal ini ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah seperti bunga dan gula-gula. Bahkan sering pula ditandai dengan adanya kumpul-kumpul atau pesta dansa.
Dari paparan di atas kita tahu bahwa kisah cinta Valentine ini merupakan kisah cinta milik kalangan Kristen dan sama sekali tidak memiliki benang merah budaya dan peradaban dengan Islam. Namun kenapa remaja-remaja muslim ikut larut dan merayakannya?
Ada beberapa jawaban yang bisa kita berikan terhadap pertanyaan tersebut :
Pertama, remaja muslim kita tidak tahu latar belakang sejarah Valentine’s Day sehingga mereka tidak merasa risih untuk mengikutinya. Dengan kata lain, remaja muslim banyak yang memiliki kesadaran sejarah yang rendah.
Kedua, adanya anggapan bahwa Valentine’s Day sama sekali tidak memiliki muatan agama dan hanya bersifat budaya global yang mau tidak mau harus diserap oleh siapa saja yang kini hidup di –untuk meminjam McLuhan—global village.
Ketiga, keroposnya benteng pertahanan relijius remaja kita sehingga tidak mampu lagi menyaring budaya dan peradaban yang seharusnya mereka “lawan” dengan keras.
Keempat, adanya perasaan loss of identity kalangan remaja muslim sehingga mereka mencari identitas lain sebagai pemuas keinginan mendapat identitas global.
Kelima, hanya mengikuti trend yang sedang berkembang agar tidak disebut ketinggalan zaman.
Keenam, adanya pergaulan bebas yang kian tak terbendung dan terjadinya de-sakralisasi seks yang semakin ganas.
Mungkin masih ada deretan jawaban lain yang bisa diberikan terhadapa pertanyaan di atas.

Islam, Cinta dan Hari Valentine
Bisa kita lihat pada bahasan di atas bahwa Valentine Day merupakan peringatan “cinta kasih” yang diformalkan untuk mengenang sebuah peristiwa kematian seorang pendeta yang mati dalam sebuah penjara. Yang kemudian diabadikan oleh gereja lewat tangan Paus Gelasius. Maka merupakan sebuah kurang cerdas jika kaum muslim—dan secara khusus kalangan remajanya—ikut melestarikan budaya yang sama sekali tidak memiliki ikatan historis, emosioal dan religius dengan mereka. Keikut sertaan remaja muslim dalam “huru-hura” ini merupakan refleksi kekalahan mereka dalam sebuah pertarungan mempertahankan identitas dirinya.
Mungkin ada sebagian remaja yang akan bertanya: Kenapa memperingati sebuah tragedi cinta itu tidak boleh dilakukan? Apakah Islam melarang cinta kasih? Bukankah Islam menganjurkan pemeluknya kasih pada sesama?

Tak ada yang menyangkal bahwa Islam tidak melarang cinta kasih. Islam sendiri adalah agama kasih dan menjunjung cinta pada sesama. Dalam Islam cinta demikian dihargai dan menempati posisi sangat terhormat, kudus dan sakral. Islam sama sekali tidak phobi terhadap cinta. Islam mengakui fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun demikian Islam tidak menjadikan cinta sebagai komoditas yang rendah dan murahan. Cinta yang merupakan perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihanya dengan penuh gairah, lembut dan kasih sayang dalam Islam dibagi menjadi tiga tingkatan yang kita tangkap dari ayat Al-Quran: Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kerabat-kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerusakannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu senangi lebih kau cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik (At-Taubah: 24)
Dalam ayat ini menjadi jelas kepada kita semua bahwa cinta tingkat pertama adalah cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya yang kemudian disebut dengan cinta hakiki, kemudian cinta tingkat kedua adalah cinta kepada orang tua, isteri, kerabat, dan seterusnya. Sedangkan cinta tingkat ketiga adalah cinta yang mengedepankan cinta harta, keluarga dan anak isteri melebih cinta pada Allah, Rasul dan jihad di jalan Allah.

Cinta hakiki akan melahirkan pelita. Cinta hakiki yang dilahirkan iman akan senantiasa memberikan kenikmatan-kenikmatan nurani. Cinta hakiki akan melahirkan jiwa rela berkorban dan mampu menundukkan hawa nafsu dan syahwat birahi. Cinta akan menjadi berbinar tatkala orang yang memilikinya mampu menaklukkan segala gejolak dunia. Cinta Ilahi akan menuntun manusia untuk hidup berarti dan setelah itu mati—untuk meminjam kata Khairil Anwar.
Islam memandang cinta kasih itu sebagai rahmat. Maka seorang mukmin tidak dianggap beriman sebelum dia berhasil mencintai saudaranya laksana dia mencinta dirinya sendiri (HR. Muslim), perumpamaan kasih sayang dan kelembutan seorang mukmin adalah laksana kesatuan tubuh; jika salah satu anggota tubuh terasa sakit, maka akan merasakan pula tubuh yang lainnya : tidak bisa tidur dan demam (Bukhari Muslim). Seorang mukmin memiliki ikatan keimanan sehingga mereka menjadi laksana saudara (Al-Hujarat: 13), dan cinta yang meluap sering kali menjadikan seorang mukmin lebih mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan (Al-Hasyr : 9 ).

Di mata Islam mencinta dan dicinta itu adalah “risalah” suci yang harus ditumbuhsuburkan dalam dada setiap pemeluknya. Makanya Islam menghalalkan perkawinan dan bahkan pada tingkat mewajibkan bagi mereka yang mampu. Islam tidak menganut “selibasi” yang mengibiri fitrah manusia seperti yang terjadi dalam ajaran Kristen dan Hindu, serta Budha yang menganut sistem sosial yang dikenal dengan kependetaan. Sebab memang tidak ada rahbaniyah dalam Islam.
Valentine Day yang merupakan ungkapan kasih selain “hamil” nilai-nilai relijus yang bukan bagian dari agama kita juga saat ini dirayakan dengan menonjolkan aksi-aksi permisif. Dengan lampu remang, dan lilin-lilin temaram. Peniruan pada perilaku agama lain dan sekaligus melegalkan pergaulan bebas inilah yang tidak dibenarkan dalam pandangan Islam.

Islam dan Perlawanan Budaya
Sebagai agama pamungkas Islam dengan tegas memposisikan diri sebagai agama yang diridhai Allah dan siapa saja yang ingin mencari agama selain Islam maka agamanya tidak akan diterima (Lihat: Ali Imran ayat 19 dan 185). Dan sebagai agama terakhir Islam telah melakukan beberapa pembenaran dari berbagai penyelewengan yang terjadi dalam agama Kristen dan agama Yahudi. Islam mengharuskan pemeluknya untuk membentengi diri dari semua budaya yang datang dari kalangan Yahudi dan Kristen. Kaum muslimin harus memiliki budaya dan identitasnya sendiri yang bersumber pada norma dan ajaran agamanya.
Setelah kita mengetahui bahwa Valentine’s Day sama sekali tidak memiliki kaitan sejarah dengan Islam, maka menjadi tugas semua remaja Islam untuk menghindari dan tidak ikut serta dalam sebuah budaya yang tidak bersumber dari ajarannya. Valentine’s Day bukanlah simbol dan identitas remaja muslim karena ia merupakan hari raya kalangan remaja Kristen. Dan kita persilahkan saudara-saudara kita dari remaja kalangan Kristen untuk merayakannya sesuai dengan keyakinan mereka.

Ada satu hadits yang sangat terkenal yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah bersabda: Barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari mereka (Abu Daud). Hadits ini mengisyaratkan bahwa meniru-niru budaya-reliji orang lain yang tidak sesuai dengan tradisi Islam memiliki resiko yang demikian tinggi sehingga orang tersebut akan dianggap sebagai bagian dari orang yang ditiru.
Sebagaimana juga firman Allah, Barang siapa diantara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonga mereka (Al-Maidah: 51). Sabda Rasulullah, “Kau akan bersama-sama dengan orang yang siapa yang kau cintai” (Bukhari Muslim).

Banyak contoh yang bisa kita kemukakan dari kontra-kultural yang dilakukan Rasulullah untuk mengokohkan identitas umatnya. Saat Rasulullah datang ke Madinah dia melihat penduduk Madinah bersuka ria dalam dua hari. Kemudian Rasulullah bertanya: Hari apa dua hari itu? Pada sahabat menjawab: Dua hari tadi adalah hari dimana kami bermain-main dan bersuka cita di masa jahiliyah! Maka bersabdalah Rasulullah: Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian: Iedul Adha dan Iedul Fithri. (HR. Abu Daud) Rasulullah misalnya melarang umatnya makan dengan tangan kiri karena cara itu adalah cara makan syetan. (HR. Muslim)
Larangan Rasulullah untuk kembali memperingati 2 hari dimana orang-orang Madinah biasa bermain di zaman jahiliyah merupakan perlawanan budaya terhadap budaya jahilyah dan digantikan dengan budaya-reliji baru. Sedangkan pelarangannya agar tidak makan dengan tangan kiri juga merupakan perang etika Islam dengan etika syetan.

Allah tidak menghendaki kaum muslimin menjadi “buntut” budaya lain yang berbenturan nilai-nilainya dengan Islam. Peringatan Allah pada ayat di atas membersitkan pencerahan pada kita semua bahwa Islam dengan ajarannya yang universal harus dijajakan dengan rajin pada dunia mengenal Islam dengan cara yang benar dan agar Islam menjadi “imam” peradaban dunia kembali. Sebab kehancuran peradaban Islam telah menimbulkan kerugian demikian besar pada tatanan normal manusia yang terkikis secara moral dan ambruk secara etika.
Kemunduran peradaban Islam telah menjebak dunia pada arus kegelapan akhlak dan moralitas. Kehancuran peradaban Islam ini oleh Hasan Ali An-Nadawi dianggap sebagai malapetaka terbesar dalam perjalanan peradaban manusia. Dia berkata, “Kalaulah dunia ini mengetahui akan hakikat malapetaka ini, berapa besar kerugian dunia dan kehilangannya dengan kejadian ini, pastilah dunia hingga saat ini akan menjadikan kemunduran kaum muslimin sebagai hari berkabung yang penuh sesal, tangis dan ratapan. Setiap bangsa di dunia ini akan mengirimkan tanda berduka cita…

Apa yang menimpa remaja muslim saat ini tak lebih dari dampak keruntuhan peradaban Islam yang sejak lama berlangsung. Remaja muslim masa kini yang “buta” terhadap peradabannya sendiri diakibatkan munculnya serangan budaya yang gencar menusuk jantung pertahanan budaya kaum muslimin. Kemampuan mereka untuk bertahan dengan ideal-ideal Islam yang rapuh menjadikan mereka terseret arus besar peradaban dunia yang serba permisif, hedonis dan materialistik. Lumpuhnya pertahanan mereka terhadap gencarnya serangan budaya lain yang terus menggelombung menjadikan mereka harus takluk dan menjadi “budak” budaya lain.
Maka sudah saatnya bagi remaja muslim untuk memacu diri melakukan gerilya besar dengan mengusung nilai-nilai Islam sehingga dia mampu mengendalikan diri untuk tidak terpancing apalagi larut dengan budaya-reliji lain. Generasi muda muslim hendaknya mampu membangun benteng-benteng diri yang sulit ditembus oleh gempuran-gempuran perang pemikiran yang setiap kali akan mengoyak-ngoyak benteng pertahanan imannya.

Perlawanan budaya ini akan bisa dilakukan jika remaja muslim mampu mendekatkan dirinya dengan poros ajaran Islam dan mampu melakukan internalisasi diktum-diktum itu ke dalam kalbu, dan sekaligus terejawantahkan ke dalam aksi. Remaja muslim yang mampu menjadikan keimanannya “hidup” akan mampu bergumul dan bahkan memenangkan pertarungan yang sangat berat di hadapannya. Remaja muslim yang dengan setia menjadikan Al-Quran dan Hadits sebagai panduan hidupnya akan mampu menjadi seorang muslim tahan banting dan imun terhadap virus budaya global yang mengancam identitasnya. Seorang remaja muslim yang menjadi the living Quran akan mampu melakukan kontra aksi terhadap semua tantangan yang dihadapinya. Dia akan mampu menangkis serangan informasi satu arah yang kini datang dari Barat.
Apa yang mesti dilakukan oleh kalangan muda Islam di zaman serba kompleks ini?

Dalam pandangan saya tidak ada yang lebih baik untuk dilakukan kecuali kita semua kembali merapatkan jiwa dan kesadaran kita ke akar norma agama kita sendiri, lalu kita gali sedalam-dalamnya, kita renungkan semaksimal mungkin, kita aplikasikan dalam hidup ini. Dan kita pasarkan ajaran-ajaran Islam itu dengan sepenuh raga dan jiwa. Hanya dengan spirit berjuang yang tinggi dan komitmen yang kuat remaja muslim akan lahir kembali dalam sosok yang cemerlang dengan Islam sebagai panji.

Mari kita bersama-sama terus menjaga negara kita indonesia secara umum dan Nusa Tenggara Barat pada Khususnya,agar mampu bertahan dengan dan bisa,membuat suatu pilter dalam melawan arus budaya barat yang semakin mendesak,,,Tanamkan jiwa rasa cinta tanah air,jiwa cinta Gumi Sasak Lombok yang kuat,agar cakram-cakram Budaya budaya barat yang negatip mampu kita patahkan bersama,,,,,,,,,,,,,!!!!!!

Wednesday, October 24, 2012

GENERASI SASAK DIAMBANG KEHANCURAN


BUDAYA SUKU SASAK yg dulu dikenal patuh,taat,hormat pada leluhur , menjujung tinggi nilai peradaban,sopan santun dan rendah diri,sedikit demi sedikit mulai bergeser ke ambang kehancuran,pendapat ini saya dapatkan dari 3.000 orang & sya hanya memakai 100 org saja sbg xemple,ternyata hasilnya sangat mencemaskan,budaya barat sudah mendominasi sebagian besar generasi sasak lombok.


PULAU LOMBOK YANG EXSOTIC itu kata orang, hotel-hotel dibangun, rumah-rumah makan didirikan dan kafe-kafe bermunculan. Perkembangan ini di satu sisi menguntungkan bagi pendapatan daerah ini,sisi lain kemiskinan masih mendomonasi masyarakat selain rusaknya moral generasi muda. Ironis nya, para pemodal di pulau ini sebagian besar wisatawan asing atau turis. Selain itu hotel-hotel mewah, restoran, dan cafe pun pemilikinya adalah orang asing (bule). Sementara warga, masyarakat daerah ini hanya menjadi penonton alias tukang heran(MEJAK MELET,NGEMPET ELOR )


 Dan sekarang pulau lombokpun dikenal sebagai “party island” oleh para turis mancanegara. Pesta musik di tepi pantai, lampu-lampu disko dengan musik gemerlap pun menghiasi setiap hotel,Bar dan pantai-pantai setiap malamnya. Artinya sedikit demi sedikit Budaya hidup barat mulai menggusur tatanan hidup masyarakat khususnya generasi muda. Inilah pulauku,pulau seribu mesjid. Apa yang daerah ini pertahankan dan banggakan setelah alam, budaya, agama, dan manusia telah tergadai oleh keadaan. entah salah siapa? atau tidak ada yang salah? yang pasti ahlak dan moral bangsa,masyarakat sasak lombok diambang kehancuran.

Analisa ini lebih kuat didukung lewat facebook,youtube, alam wisata,perhatikan seperti apa perubahan itu dan dari segi apa saja.
Perubahan2 itu khususnya bagi generasi sasak lombok diantaranya :

1.cara berpakaian
2.Tegur sapa/Berbicara
3.Yang paling parah adalah dari segi pergaulan.


Kemudian kalau hal ini terus terjadi siapa yg akan bertanggung jawab ?
Pemerintah ?
Toga toma ?
Orang tua ?
Atau Organisasi2 masyarakat lainnya.

Lain orang lain kepala sebuah kalimat yang tidak asing lagi bagi masyarakat,bagi saya hanya mampu mengajak untuk bersama2 mencari solusi dan prihatin dalam maslah ini,melihat perilaku generasi muda yang semakin hari semakin antah berantah,para pejabat saat ini hanya sibuk dengan urusan2 yang sepertinya tidak memihak   sama sekali kepada masyrakat.
Padahal kita/semua tau generasi muda adalah miniatur dari kelangsungan suatu peradaban suku/daerah/negara.
kalau generasi muda sudah seperti ini coba  kita bayangkan apa yang akan terjadi di bumi lombok.
Para tokoh adat & agama selalu sibuk dgn dialoge2 ttg itu,namun mereka lupa kalau kehancuran suatu peradaban dan ahklak generasi muda(manusia)di dasari oleh lingkaran setan yaitu : kemiskinan.

Sebagai manusia biasa yang tak  luput pula dari salah,hanya bisa mengajakk untuk ,mari kita saling nasehat menasehati,saling tegur sapa,bahu membahu agar mewujudkan persatuan dan menghindari gejolak salah paham yang akhir2 ini melanda nusantara.
sepertinya tidak cukup dengan hanya membuka seminar,pembentukan karang taruna atau organisasi lainya,kalau hal itu tidak di imbangi dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang kuat,agar terhindar dari kalimat :APAPUN  DILAKUKAN DEMI MEMPERTAHANKAN KEHIDUPAN.

Apalah artinya kita memberikan berbagai macam pandang,mengungkapkan peradaban nenek moyang suku sasak kalau pemimpin sasak sendiri tidak memperhatikan kesejahteraan masyarakat,semua itu hanya akan membuang energi dan waktu sebab masyarakat akan menggunakan kalimat khiasan "MASUK LEWAT TELINGA KANAN KELUAR LEWAT TELINGA KIRI ".
Selama lingkaran setan (kemiskinan ) itu masih menggrogoti masyarakat sasak lombok,saya yakin perjuangan para tokoh masyarakat adat dan tokoh agama di lombok hanya sebagai BUNGA MIMPI DIKALA TIDUR.

Mari kita saling berbagi dan mari kita renungkan hal ini,krn selama ini PEMDA & pihak2 terkait hanya sibuk dgn pembahasan2/dialoge2 yg masih diatas langit ketuju.
Tapi mereka/kita semua, secara langsung tdk sadar akan hal itu bisa mengancam kelangsungan peradaban suku sasak yang dikenal dengan sopan santun dalam segala hal.
Demikian sedikit uraian tentang runtuhnya sebuah tata krama.
Salam maaf dan Ampure.

Wassalam

Nb :
Yth/sdra/i yang secara kebetulan membaca tulisan hati saya
agar sudi kiranya memberikan Kritikan dan saran2 nya.

Tuesday, July 31, 2012

WAJAH KOTA KOTA DI LOMBOK TEMPO DULU

Bila kita perhatikan gambar2 berikut,apa yang terlintas dibenak kita masing2 ?
sudah pasti ,kita akan berhayal tentang setiap gambar ini dimasa lampau,kadang2 ingin rasanya hidup pada zaman itu untuk menyaksikan betapa kehidupan para raja2,rakyat dan sekeliling alam zaman itu,seperti penuturan seorang tokoh masyarakat yang ada di desa puyung kecamatan jonggat kabupaten lombok tengah,Tuturnya,Jaman dulu,kalau kita ingin pergi kekota praya  dengan jalan kaki bisa memakan waktu 1 hari 1/2 malam ,itupun harus singgah/istirahat sejenak sambil membuka bekal (takilan bhs sasaq) dipabrik bunge(sekarang tepat dipatung Putri mandalika ) setelah itu baru melanjutkan perjalanan memasuki kota praya (Raje koneng )
Timbul pemikiran yang rumit dibenak kita,kok bisa memakan waktu yg begitu lama ya ?                                                       padahal sekarang hanya bisa ditempuh 1jam dengan berjalan  kaki,apa sebabnya  ?

Jendral Mayor PPH van Ham yang tewas dalam intervensi pertama Belanda ke Mataram tahun 1894
Anak Agung Ketut Karangasem, General-Major PPH van Ham (Perwakilan Pusat), General-Major JA Vetter (Komandan), Residen MC Dannenbargh, dan Gusti Jelantik (duduk) saat melakukan negosiasi pada tahun 1894
Gambar pasukan KNIL yang berangkat dari Semarang menuju Lombok tahun 1894 (oleh J.P. Schomake)
Pasukan KNIL saat mendarat di Pantai Ampenan pada tahun 1894
Pasukan KNIL saat akan menyerbu Puri Pagesangan, Cakranegara tahun 1894

Puri Pagesangan (Cakranegara) yang luluh lantah diserbu oleh Belanda (KNIL) pada tahun 1894

Raja Ratu Agung Gede Ngurah Karangasem saat berada di pengasingan Batavia





gambar 01 dan 02. keadaan desa songak kec. sakra lombok timur pada tahun 1925
gambar 03: prajurit kerajaan mengiringi utusan raja tahun 1892
gambar 04: gandrung atau lebih dikenal dengan nama jangger. biasanya jangger dipertunjukkan pada saat pesta perkawinan, khitanan, dan pada acara pertunjukan budaya, foto ini diabadikan pada tahun 1925
gambar 05: jalan ampenan - mataram pada tahun 1894
gambar 06: kantor urusan sipil, sekarang dinamakan kantor catatan sipil pada tahun 1895
gambar 07: pasar ternak kopang tahun 1921
gambar 08: warga labuhan haji pada tahun 1920
gambar 09: lapangan mataram
gambar 10: aktivitas kaum hawa mengambil air disungai pada tahun 1929, lombok timur
gambar 11: lumbung padi suku sasak
gambar 12: mangku dan bujangga sakra tahun 1920
gambar 13: mataram 1920
gambar 14: menteri besar kerajaan selaparang 1865
gambar 15: pakai adat laki-laki suku sasak 1929
gambar 16: peresean 1946
gambar 17: perwakilan lombok tahun 1864
gambar 18: punggawa pura desa cakra lombok barat tahun 1895
gambar 19: raja lombok dan anak buah tahun 1902
gambar 20: rumah warga lombok tengah 1910
gambar 21: masyarakat desa rumbuk sakra tahun 1920
gambar 21: selong 1929
gambar 22: sepolong labuhan haji tahun 1920












Demikian beberapa kumpulan gambar - gambar kuno yang diabadikan didaerah lombok nusa tenggara barat, semoga mampu menambah rasa cinta kita kepada para leluhur sasaq dan membawa kita sebagai suku sasaq/orang sasaq yang punya martabat ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,!!!!

Saturday, July 28, 2012

SIAPA KAMI SEBENARNYA ? GENERASI SASAK HARUS TAHU !!

SIAPA KAMI SEBENARNYA ?

TRAILER perempuan sasaq terakhir mampu membuka mata hati kami tentang peradaban suku sasaq,secara tidak langsung kami berkumpul sambil menonton film sajadah ka,bah dan trailer "perempuan sasaq terakhir "
hasil karya putra lombok yakni Sandi amaq Rinjani, Dialoge buta ini hadir dari empat daerah diindonesia yang sangat mencintai pradaban dan sejarah nenek moyang,Meskipun saat ini bukan berada di indonesia melainkan sebagai Tenaga kerja diluar negeri, kami tidak mau ketinggalan utk mengetahui perkembangan di negara tercinta baek melalui televisi ataupun dunia internet,pergumulan ini bukan didasari atas acara resmi tetap hanya acara biasa seusai lepas dari tugas kami seperti biasa berkumpul sambil membuka internet inilah rekan rekan kita diantaranya :



Budi bujana sudirman-soreang bandung Jabar
Muhammad Nasier taloe - Ende polores NTT
Muhammad Nahari samsuri moka - Tulungagung Jatim dan
sulton abidin - Praya Loteng
Dalam dialog buta ini kami coba membahas seputar tentang Raja2 diindonesia mulai dari raja Sunda sampai ke kerajaan lombok,kami  bercengkrama membandingkan mulai dari tahun dan sebagian dari sisi babad.lontar dan kitab terkemuka dinusantara yakni Negarakertagama & Kitab Pararaton.Manusia hanya bisa membandingkan dari catatan satu kecatatan lainnya,karena persepsi tentang sejarah raja2 diindonesia khususnya Lombok sasak menemui berbagai macam statemen yg berbeda.mulai dari masalah :
-Perbedaan antara Suku sasaq,orang sasaq dan orang lombok.
-Kedudukan suku sasaq dan tarap kehidupannya.
-Kebangsawanan lombok pengaruh  buadaya dari kerajaan  jawa.
-silsilah suku sasaq dan asal usul dari skala menengah (yg diambil dari berbagai tahun dan terakhir Kitab negarakertagama di dukung oleh babad lombok,babad suwung lontar2 lainya titik temu pembuka tabir peradaban baru suku sasak di lombok ini )


Tetapi sebelumnya kami  minta maaf untuk saudara2,para budayawan,ini kami bahas bukan bermaksud untuk mencari Hitam diatas putihnya para bangsawan lombok,akan tetapi semata mata  untuk memberikan keleluasaan untuk mengulas tentang nenek moyang mereka,terutama generasi muda yang akan menjadi buta sejarah kalau saja kita tidak memberikan penjelasan yang sedetail mungkin,minimnya pengetahuan tentang leluhurnya adalah sebagian dari kurangnya minat generasi muda sekarang untuk mencintai adat dan budayanya,bahkan lebih cendrung melirik budaya barat yang menjurus pada kebebasan,untuk itu
mari kita perhatikan dibawah ini menurut kami :

1.Perbedaan sebutan untuk suku sasaq,orang sasaq dan orang lombok.

Suku sasaq adalah sebutan untuk orang  asli  suku dilombok,mereka kebanyakan bermukim dilereng2 gunung dan pesisir,sedangkan sebutan untuk orang sasaq yakni orang mayoritas yang ada dilombok (selain suku asli sasaq,sasaq moderen).dan sebutan Orang lombok yaitu mencakup keseluruhan penduduk yang ada di pulau lombok baek itu Chine lombok,Arab Lombok Dll.


2.Kedudukan suku sasaq dan tarap kehidupan                                                                                                                                                                                            kalau kita perhatikan secara nyata kehidupan suku sasaq ini sangat  terbelakang dalam sisi zaman ini,  budaya adat istiadat leluhurnya masih tetap dipegang terus.
Rata2 kehidupan suku asli sasak dilombok berada dibawah garis kemiskinan,kita bukan menilai dari pisik bangunan rumahnya saja,tapi secara keseluruhan,pada dasarnya merka sbenarnya ingin hidup yang cukup seperti orang2 kebanyakan,misalnya saja kebutuhan pokok dan tempat tinggal.
Padahal mereka adalah orang asli pulau lombok ini namun sepertinya nyaris tidak mempunyai hak untuk hidup layak,apakah ini kemauan mereka ? kami rasa tidak,sebab diantara merka banyak yang bekerja sebagai buruh,ini adalah satu fakata kalau merka juga ingin hidup layak.

Alam, membentuk karakter manusia, manusia lalu membentuk budaya. Lewat rumah tempat hidupnya Orang Sasak lombok ini memperlihatkan itu semua: kearifan lokal, memuja tradisi, sekaligus beradaptasi dengan tradisi lain, dan modernisme: ada antena televisi di antara rumah-rumah tersebut.
Tapi sampai kapan mereka bertahan, ketika pariwisata dengan gemerincing uangnya mulai mempengaruhi Lombok sebagai tentangga Bali: bagaimana budaya adaptasi dibentuk, dan bagaimana manusia memandang manusia lain? Sudah saatnya pemerintah membuat suatu agenda untuk suku sasaq ini ! atau kita hanya bisa kagum,bangga,padahal perut mereka keroncongan,mereka orang2 lugu dan polos,jangan jerat mereka dengan politik.

3.Dasar kebangsawanan lombok pengaruh budaya kerajaan2 dijawa.
Kami mencoba spekulasi tentang kebangsawanan dilombok ini tidak lepas dari pengaruh budaya kerajaan kerajaan dari jawa coba kita lihat bukti yang mendukung menurut babad dan sejarah orang kepercayaan orang lombok :
.
(A).Menurut isi Babad Lombok, kerajaan tertua yang pernah berkuasa di pulau ini bernama Kerajaan laeq(dalam bahasa sasak laeq berarti waktu lampau) pendiri kerajaan ini adalah imigran dari jawa.
bahwa ini bukan satu-satunya versi yang berkembang. Pada awalnya, kerajaan yang berdiri adalah Laeq. Diperkirakan, posisinya berada di kecamatan Sambalia, Lombok Timur. Dalam perkembangannya, kemudian terjadi migrasi, masyarakat Laeq berpindah dan membangun sebuah kerajaan baru, yaitu kerajaan Pamatan, di Aikmel, desa Sembalun sekarang. Lokasi desa ini berdekatan dengan Gunung Rinjani. Suatu ketika, Gunung Rinjani meletus, menghancurkan desa dan kerajaan yang berada di sekitarnya. Para penduduk menyebar menyelamatkan diri ke wilayah aman. Perpindahan tersebut menandai berakhirnya kerajaan Pamatan.

Setelah Pamatan berakhir, muncullah kerajaan Suwung yang didirikan oleh Batara Indera. Lokasi kerajaan ini terletak di daerah Perigi saat ini. Setelah kerajaan Suwung berakhir, barulah kemudian muncul kerajaan Lombok. Seiring perjalanan sejarah, kerajaan Lombok kemudian mengalami kehancuran akibat serangan tentara Majapahit pada tahun 1357 M. Raden Maspahit, penguasa kerajaan Lombok melarikan diri ke dalam hutan. Ketika tentara Majapahit kembali ke Jawa, Raden Maspahit keluar dari hutan dan mendirikan kerajaan baru dengan nama Batu Parang. Dalam perkembangannya, kerajaan ini kemudian lebih dikenal dengan nama Selaparang.
Setelah Pamatan berakhir, muncullah kerajaan Suwung yang didirikan oleh Batara Indera. Lokasi kerajaan ini terletak di daerah Perigi saat ini. Setelah kerajaan Suwung berakhir, barulah kemudian muncul kerajaan Lombok. Seiring perjalanan sejarah, kerajaan Lombok kemudian mengalami kehancuran akibat serangan tentara Majapahit pada tahun 1357 M. Raden Maspahit, penguasa kerajaan Lombok melarikan diri ke dalam hutan. Ketika tentara Majapahit kembali ke Jawa, Raden Maspahit keluar dari hutan dan mendirikan kerajaan baru dengan nama Batu Parang. Dalam perkembangannya, kerajaan ini kemudian lebih dikenal dengan nama Selaparang.
 Pada abad ke 19 hingga abad ke 11 berdiri kerajaan sasak yang kemudian dikalahkan oleh salah satu kerajaan yang berasal dari Bali pada masa itu. Beberapa kerajaan lain yang pernah berdiri di pulau Lombok antara lain Pejanggik, Langko, Bayan, Sokong Samarkaton dan seleparang.

(B).Kitab negarakertagama selaku pembuka tabir keberadaan suku sasak lombok dan para raja2. yang pada sebelumnya (sejarah ttg suku sasak dan para raja diraja,baek dalam babad & lontar lontar disakralkan) sasak suku belum tercatat secara nasional sebagai sebuah suku dan belum begitu dikenal,tapi begitu gembar gembor tentang kitab terkemuka dinusantara itu mencuat sejarah sasak tidak lagi menjadi rahasia tapi sipatnya umum.saat peperangan antara Bali dan Lombok, kerajaan Selaparang telah kalah karena diserang secara tiba-tiba, dan akhirnya semua keluarga kerajaan,harta benda milik kerajaan selaparang dirampas oleh pasukan Bali, sisa-sisa yang tidak terbawa kemudian dibakar. Termasuk mahkota emas Pemban Selaparang dan naskah lontar Negara Kertagama yang sedang dipelajarai oleh para Putra dan Perwira kerajaan Selaparang.




(C).Asal-usul penduduk pulau Lombok terdapat di beberapa versi, salah satunya yaitu kata “sasak” secara etimilogis menurut Dr. Goris. s. berasal dari kata “sah” yang berarti pergi dan “shaka” yang berarti leluhur. Berarti pergi ke tanah leluhur orang Sasak (Lombok). Dari etimologis ini di duga leluhur orang Sasak adalah orang Jawa. Terbukti pula dari tulisan Sasak yang oleh penduduk Lombok disebut Jejawan, yakni aksara Jawa yang selengkapnya diresepsi oleh kesusastraan Sasak.

(D).Disebutkan di dalam daun Lontar tersebut bahwa agama Islam salah satunya (bukan satu-satunya) pertama kali dibawa dan disebarkan oleh seorang muballigh dari kota Bagdad, Iraq, bernama Syaikh Sayyid Nururrasyid Ibnu Hajar al-Haitami. Masyarakat Pulau Lombok secara turun-temurun lebih mengenal beliau dengan sebutan Ghaos Abdul Razak. Nah, beliau inilah, selain sebagai penyebar agama Islam, dipercaya juga sebagai cikal bakal Sulthan-Sulthan dari kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Lombok.[2] Namun selain beliau, Betara Tunggul Nala (disebut pula Nala Segara) diyakini pula sebagai leluhur Sulthan-Sulthan di Pulau Lombok.
--------------------------------------------

Betara Nala memiliki seorang putra bernama Deneq Mas Putra Pengendeng Segara Katon Rambitan yang bernama asli Sayyid Abdrurrahman. Beliau ini dikenal pula dengan nama Wali Nyatok. Ia disebut sebagai pendiri Kerajaan Kayangan yang merupakan cikal bakal Kerajaan Selaparang. Namun, ketinggian ilmu tarekatnya telah mendorongnya untuk mengundurkan diri dari panggung Kerajaan Kayangan dan kemudian menetap di desa Rambitan, Lombok Tengah, sebagai penyebar agama Islam di wilayah ini.[3] Wali Nyatok ini di Pulau Bali terkenal dengan nama Pedanda Sakti Wawu Rauh atau Dang Hyang Dwijendra. Adapun di Sumbawa terkenal dengan nama Tuan Semeru, sedangkan di Pulau Jawa beliau bernama Aji Duta Semu atau Pangeran Sangupati. Ia dikenal sebagai penyebar agama Islam, pun dianggap sebagai seorang Wali Allah. Ia mengarang kitab Jatiswara, Prembonan, Lampanan Wayang, Tasawuf dan Fiqh. Dalam proses menyebarkan agama Islam, salah satu media yang digunakannya adalah Wayang, sebagaimana yang dilakukan pula oleh Sunan Kalijaga. Adapun bentuk mistik Islam yang dibawanya merupakan kombinasi (sinkretisme) antara mistisme Islam (Sufisme) dengan salah satu ajaran filsafat Hindu, yaitu Advaita Vedanta.
Kembali ke soal Kerajaan Selaparang dan Ghaos Abdul Razak. Tidak diketahui secara pasti kapan tepatnya beliau masuk ke Pulau Lombok. Namun pendapat terkuat menyebutkan bahwa beliau datang ke Pulau Lombok untuk pertama kalinya sekitar tahun 600-an Hijriyah atau abad ke-13 Masehi (antara tahun 1201 hingga 1300 Masehi). Ghaos Abdul Razak mendarat di Lombok bagian utara yang disebut dengan Bayan. Beliaupun menetap dan berda'wah di sana. Beliau kemudian menikah dan lahirlahi tiga orang anak, ya'ni Sayyid Umar, yang kemudian menjadi datu Kerajaan Gunung Pujut, Sayyid Amir, yang kemudian menjadi datu Kerajaan Pejanggik, dan Syarifah Qomariah atau yang lebih terkenal dengan sebutan Dewi Anjani.
Kemudian Ghaos Abdul Razak menikah lagi dengan seorang putri dari Kerajaan sasak yang melahirkan dua orang anak, ya'ni seorang putra bernama Sayyid Zulqarnain (dikenal juga dengan sebutan Syaikh 'Abdul Rahman) atau disebut pula dengan Ghaos 'Abdul Rahman, dan seorang putri bernama Syarifah Lathifah yang juluki pula dengan Denda Rabi'ah. Sayyid Zulqarnain inilah yang kemudian mendirikan Kerajaan Selaparang sekaligus pula sebagai datu pertama dengan gelar Pemban Selaparang atau Sulthan Rinjani.
Nah, sampai disini sudah terdapat dua versi, yakni antara Nala Segara (Betara Tunggul Nala) dan Ghaos Abdul Razak yang sama-sama dipercaya sebagai penyebar agama Islam, menjadi cikal bakal Sulthan-Sulthan Lombok dan pendiri Kerajaan Selaparang. Pertanyaan yang agak menggelitik kemudian adalah: Tidakkah keduanya memang orang yang sama? Tidakkah yang dimaksud sebagai Nala Segara itu sebagai Ghaos Abdul Razak, dan Wali Nyatok adalah Ghaos 'Abdul Rahman. Hal itu masih dimungkinkan mengingat pada masa dahulu seorang tokoh seringkali menggunakan nama-nama berbeda ditempat yang berbeda.
Berbagai sumber menyebutkan, bahwa setelah dipindahkan, Kerajaan Selaparang mengalami kemajuan pesat. Sebuah sumber mengungkapkan, Kerajaan Selaparang dapat mengembangkan kekuasaannya hingga ke Sumbawa Barat. Disebutkan pula bahwa seorang raja muda bernama Sri Dadelanatha, dilantik dengan gelar Dewa Meraja di Sumbawa Barat karena saat itu (1630 Masehi) daerah ini juga masih termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Selaparang. Kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya, yaitu sekitar tanggal 30 November 1648 Masehi, putera mahkota Selaparang bernama Pangeran Pemayaman dengan gelar Pemban Aji Komala, dilantik di Sumbawa menjadi Sulthan Selaparang yang memerintah seluruh wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa.

Disni cukup jelas meskipun sejarah asal usul orang sasak dan kerajaan dilombok ini masih simpang siur,namun kita bisa menyimpulkan : menurut Persi Gaos Abdulrazak sebutan bangsawan dilombok bukan (seperti sekarang)
Melainkan berbentuk kesultanan sedanngkan menurut persi berbagai sejarah dilombok disebut Pemban seleparang(bukan seperti sekarang ini ) Kemudian kapan nama dan gelar2 itu diganti ?
sekarang tinggal kita yang kembali bertanya dan kita pula yang harus menjawab.

Kami minta maaf yang sebesar besarnya untuk masyarakat lombok atas apa yang kami kupas ini,maksud kami tidak lain hanya ingin tahu yang sebenar benarnya,darimana semua itu didapat,kami juga sebagai orang sasak lombok tidak ingin nama/gelar yang disandang itu mendapat pertanyaan yang sulit dijawab,tapi dengan rasa hormat dan cinta kami kepada leluhur dan para tetua,kami memberanikan diri mengupas semuanya karena selama ini kami hanya kagum,bangga dengan sesuatu yang belum diketahui ,sebagian kutipan yang berdasar,bukan rekayasa..


Bersambung..........................

Wednesday, July 18, 2012

7.KUTIPAN RINGKAS KERAJAAN TERTUA DIINDONESIA SEBAGAI PEMBUKA MENGENAL SEJARAH SASAK LOMBOK


Sejarah Kota Cakranegara - Lombok

Pada masa pemerintahan Dalem Watu Renggong (abad XV), kerajaan Gelgel di pulau Bali mengalami puncak kebesaran. Daerah kekuasaannya sampai di luar pulau Bali meliputi : Lombok, Sumbawa, dan Blambangan.[1]
Setelah Dalem Watu Renggong meninggal, ia digantikan oleh dua orang putranya yang belum dewasa, yaitu yang sulung bernama I Dewa Pemayun, kemudian setelah di angkat menjadi raja bergelar Dalem Bekung dan yang lebih kecil bernama I Dewa Anom Saganing, bergelar Dalem Saganing.
Karena umurnya masih muda, dalam menyelenggarakan pemerintahannya, mereka di dampingi oleh lima orang yaitu :
  1. I Dewa Gedong Arta,
  2. I Dewa Anggungan,
  3. I Dewa Nusa,
  4. I Dewa Bangli,
  5. I Dewa Pasedangan.
Mereka adalah putra dari I Dewa Tegal Besung, adik dari Dalem Watu Renggong. Jabatan patih agung pada saat itu di pegang oleh I Gusti Arya Batanjeruk, dan semua kebijakan pemerintahan ada di tangan patih agung Batanjeruk. Situasi seperti ini lama kelamaan menimbulkan ketidak puasan dikalangan pejabat kerajaan. Tampaknya gelagat Batanjeruk untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan kedua raja yang masih muda itu telah di ketahui oleh penasehat raja Dang Hyang Astapaka. Penasehat raja ini telah menasehati Batanjeruk agar tidak melakukan hal yang membahayakan, karena pengikut raja cukup kuat. Namun, nasehat Dang Hyang Astapaka itu tidak di hiraukan oleh Batanjeruk sehingga ia meninggalkan istana kerajaan Gelgel menuju kesebuah desa bernama Budakeling yang terletak di daerah Karangasem Bali.

Pada tahun 1556, terjadilah kekacauan di kerajaan Gelgel. Patih Agung Batanjeruk dan salah seorang pendamping raja yaitu I Dewa Anggungan mengadakan perebutan kekuasaan. Pasukan kerajaan Gelgel dapat melumpuhkan pasukan Batanjeruk. Akhirnya Batanjeruk melarikan diri ke Desa Bungaya, masih dalam wilayah Karangasem dan ditempat itulah ia di bunuh oleh pasukan Gelgel pada tahun 1556.[2] istri dan anak angkatnya yang bernama I Gusti Oka dapat menyelamatkan diri, mengungsi dikediaman Dang Hyang Astapaka di Budakeling, sedangkan para keluarga lainnya ada yang menetap di Batuaya Karangasem.


Setelah berlangsung beberapa lama dari meninggalnya Batanjeruk, I Dewa Karangamla tertarik kepada janda Batanjeruk yang pada saat itu tinggal di kediaman Dang Hyang Astapaka. Ia ingin meminang sang janda, namun atas nasehat Dang Hyang Astapaka kepada sang janda agar mengajukan suatu syarat yaitu setelah perkawinannya berlangsung agar I Dewa Karangamla mau mengangkat putranya menjadi penguasa di Karangasem. I Dewa Karangamla setuju. Akhirnya putra yang bernama I Gusti Oka dapat berkuasa di Kerajaan Karangasem. dan mulai saat itulah kekuasaan di Kerajaan karangasem di pegang oleh dinasti Batanjeruk.

I Gusti Oka atau di kenal juga dengan sebutan pangeran Oka mempunyai tiga orang istri. Salah satu putranya dari istri yang tertua melanjutkan pemerintahan di kerajaan Karangasem yang bernama I Gusti Anglurah Ketut Karang, disebutkan sebagai raja Karangasem ke III. Kerajaan Karangasem ke III inilah mulai tanpak pengaturan wilayah kerajaan, yaitu dengan didirikan puri Amlaraja yang kemudian bernama puri klodan.

Ketika I Gusti Anglurah Ketut karang mengalami masa pemerintahannya, ia menyerahkan kekuasaan kepada ketiga putranya yang laki-laki untuk memerintah bersama-sama. Sistim pemerintahan secara kolektif seperti ini merupakan hal yang lazim berlaku di kalangan kerajaan Karangasem Bali, di bawah pemerintahan merekalah kerajaan Karangasem Bali semakin menanjak. Beberapa faktor penting yang menyebabkan kalangan kerajaan Karangasem Bali semakin meluas :
  • Pertama, kerajaan Gelgel sebagai pusat pemerintahan di Bali yang pada masa pemerintahan Dalem Dimade mengalami kemerosotan. Banyak wilayah kekuasaannya di luar Bali mengembangkan diri, sedangkan situasi di dalam negeri terpecah belah.[3]
  • Kedua, situasi politik di Bali antara tahun 1650-1686 memberikan kesempatan kepada kerajaan-kerajaan yang sebelumnya menjadi taklukkan (vazal), membebaskan diri dari kekuasaan raja tertinggi (sesuhunan) yang kerajaannya pindah dari Gelgel ke Klungkung.[4] Kerajaan Karangasem di Bali mengembangkan kekuasaannya ke arah timur yaitu Pulau Lombok pada tahun 1691, dan membantu kerajaan Buleleng menaklukkan Blambangan pada tahun 1697.[5]
  • Ketiga, kekuatan spiritual yang bersumber pada kualitas Supernatural seorang pemimpin, merupakan tipe-tipe kekuasaan yang kharismatik, yaitu kepercayaan yang mengembangkan ketentuan raja sebagai Dewa. Hal ini merupakan suatu keunikan yang dimiliki oleh ketentuan raja-raja di kerajaan Karangasem sehingga dapat membawa kerajaan Karangasem ke puncak kebesarannya, dan menjadikan sebuah kerajaan yang terkuat, terutama di Bali dan Lombok [6].

Selama masa pemerintahan Raja Karangasem ke IV (sekitar tahun 1680-1705) yang di perintah oleh tiga orang bersaudara itu, tidak banyak hal yang di ketahui kecuali penaklukan atas pulau Lombok yang dipimpin oleh I Gusti Anglurah Ketut Karangasem.

PERLUASAN KEKUASAAN KE PULAU LOMBOK

Seperti telah disebutkan di atas, pada masa pemerintahan raja Karangasem ke IV, yang di perintah oleh tiga orang bersaudara yaitu I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti Anglurah Ketut Karangasem telah berhasil meluaskan kekuasaan ke pulau Lombok pada tahun 1691.
De Graaf berpendapat bahwa jatuhnya kerajaan Gelgel hampir bersamaan dengan bangkitnya kerajaan Karangasem Bali dan dikuasainya pulau Lombok.[7]
situasi politik di pulau Lombok pada saat itu juga memberikan peluang besar kepada kerajaan Karangasem di Bali untuk menanamkan kekuasaannya di pulau ini.

Hubungan politik antara Bali dan Lombok di lanjutkan oleh kerajaan Karangasem di Bali dengan dua kerajaan besar yang ada di pulau Lombok pada abad XVII, yaitu kerajaan Selaparang di Lombok Timur sebagai kerajaan Pesisir, dan kerajaan Pejanggih di Lombok Tengah sebagai kerajaan Pedalaman. Hubungan ini dimulai ketika kedua kerajaan tersebut, menjalani kekacauan sehingga situasi itu dimanfaatkan oleh kerajaan Karangasem di Bali untuk mengadakan intervensi.

Ada beberapa versi tentang munculnya kerajaan-kerajaan Hindu Bali yang ada di pulau Lombok, antara lain :
Versi Pertama, menurut Babad Lombok intervensi ini bermula dari adanya konflik antara Patih Banjar Getas dengan raja Selaparang. Raja Selaparang mengutus patih Banjar Getas pergi ke Bali untuk mencari kijang putih (mayang putih) yang dipakai sebagai obat. Setelah patih Banjar Getas pergi ke Bali, raja menyuruh panggil istri Banjar Getas, yang bernama Dyah Candra Kusuma ke Istana untuk di peristri. Setelah patih Banjar Getas kembali, ia sadar bahwa dirinya telah ditipu. Karena itulah ia berontak terhadap raja Selaparang dan minta bantuan kepada kerajaan Karangasem di Bali. akhirnya kerajaan Selaparang dan Pejanggik dapat di taklukkan oleh kerajaan Karangasem Bali.[8]

Versi Kedua, menurut Babad Selaparang di sebutkan bahwa raja Selaparang minta bantuan raja Banjarmasin sehingga akhirnya patih Banjar Getas melarikan diri ke kerajaan Pejanggik. Karena kecerdasannya ia di anggkat menjadi adipati oleh raja Pejanggik Pemban Mas Meraja Kusuma. Hal ini menyebabkan hubungan Selaparang dan Pejanggik menjadi retak. Ketika patih Banjar Getas mengabdi di kerajaan Pejanggik, terjadilah perselisihan antara patih Banjar Getas dengan istri yang keduanya, bernama Dene Bini Lala Junti, sehingga pada akhirnya diusir. Dengan hati yang sedih ia pergi ke hutan Memelak (sebelah utara kota Praya sekarang), kemudian dari tempat itu ia berlayar ke pulau Bali. Setelah ia sampai di Karangasem Bali, ia menceritakan kepada raja Karangasem tentang kekalahannya melawan raja Selaparang, dan memohon bantuan raja Karangasem. sejak itulah kerajaan Karangasem berangsur-angsur menaklukkan kerajaan di pulau Lombok.[9]

Versi Ketiga, sumber lain menyebutkan bahwa ketika raja Pejanggik mengutus Arya Banjar Getas pergi menghadap raja Klungkung dan Karangasem di Bali, raja Pejanggik jatuh cinta kepada istri Arya Banjar Getas yang bernama Dene Bini Lala Junti. Sekembalinya dari pulau Bali Arya Banjar Getas mendengar cerita tentang istrinya itu, sehingga timbul keinginan untuk menantang raja Pejanggik, sesudah ia kalah menghadapi kekuatan laskar Pejanggik, ia minta bantuan kepada raja Karangasem di Bali. itulah sebabnya kerajaan Karangasem mengadakan hubungan politik dengan kerajaan Pejanggik di Lombok. Hubungan ini di perkirakan mulai tahun 1691 [10]

Versi Keempat, dalam Pelelintih Sira Arya Getas di sebutkan bahwa pada masa pemerintahan raja Sri Kresna Kepakisan, raja ini mengutus Arya Getas menyerang raja Selaparang di pulau Lombok. berkat keberanian dan ketangkasannya, kerajaan Selaparang dapat di taklukkan, dan Arya Getas di suruh menetap di Praya Lombok Tengah [11].

Sumber itu juga menyebutkan bahwa Arya Getas berputra tiga orang laki-laki, yaitu I Gusti Ngurah Praya, I Gusti Warung Getas, dan I Gusti Mangedeb We Anyar. Setelah berselang empat keturunan, yaitu pada masa pemerintahan Dalem Dimade di Bali (tahun 1621-1651), salah seorang keturunan Arya getas hanyut di laut dan terdampar di Lombok Timur dekat Pringgabaya. Anak yang hanyut itu kemudian dipelihara oleh Datu Pejanggik dan diberi nama Raden Banjar, karena di perkirakan anak tersebut adalah anak seorang pelaut dari Banjarmasin. Sesudah Raden Banjar menanjak dewasa, ia terkenal dengan nama panggilan Banjar Getas dan berkat jasa-jasanya ia diberi gelar Raden Kertapati. Ia kawin dengan Dende Mas Kuning, putri yang amat cantik, yang menyebabkan raja Pejanggik ingin memperistrinya, tetapi tidak berhasil. Itulah penyebab timbulnya perselisihan antara Banjar Getas dengan raja Pejanggik sehingga minta bantuan kerajaan Karangasem di Bali. Pada saat itu raja I Gusti Anglurah Ketut Karangasem memimpin langsung keberangkatannya ke pulau Lombok. Banjar Getas yang juga di kenal dengan julukan Dipating Laga segera menyambut kedatangan pasukan Karangasem dan menceritakan mengenai dirinya, bahwa ia adalah keturunan Arya Gajah Para dari Tianyar Karangasem Bali. Situasi menjadi terbalik, pasukan kerajaan Karangasem memihak kepada Dipating Laga melawan Pejanggik, dan berakhir dengan kekalahan di pihak Pejanggik. Mulai saat itu kekuasaan Karangasem melebarkan sayapnya ke pulau Lombok.

Versi Kelima, menurut Babad Banjar Getas disebutkan bahwa Banjar Getas adalah seorang pengembara yang berasal dari Majapahit Jawa Timur. Menurut babad ini, ia adalah keturunan Prabu Kaisari. Ia melarikan diri ke Lombok beserta 40 orang pengiring, karena ia merasa malu tidak dapat memenuhi titah rajanya, yaitu Kencana Wungu, untuk membunuh Menak Jingga. Setelah berbagai pengalaman yang di alaminya di kerajaan Selaparang, akhirnya ia menghambakan diri di kerajaan Pejanggik, pada raja Dewa Mas Panji. Berkat kepandaiannya ia sangat berpengaruh di kerajaan Pejanggik sehingga menimbulkan ke kekhawatiran para pembesar kerajaan. Inilah yang menyebabkan kerajaan Pejanggik minta bantuan kepada kerajaan Karangasem di Bali untuk membunuh Banjar Getas. Ternyata kemudian raja Karangasem Bali memihak kepada Banjar Getas melawan kerajaan Pejanggik. Setelah Pejanggik dapat ditaklukkan, raja Karangasem dan Banjar Getas membagi wilayah kekuasaan di pulau Lombok, karajaan Karangasem Bali menguasai Lombok di bagian Barat, sedangkan Banjar Getas mendapat wilayah Lombok di bagian tengah dan timur. [12]

Pada wilayah kekuasaan kerajaan Karangasem Bali di pulau Lombok bagian barat, telah berdiri beberapa kerajaan-kerajaan kecil di bawah penguasa-penguasa bangsawan Karangasem Bali. Kerajaan-kerajaan kecil tersebut antara lain : kerajaan Pagesangan, kerajaan Kediri, kerajaan Sengkongo`, kerajaan Pagutan, kerajaan Mataram, dan kerajaan Singasari. Setelah adanya penaklukan terhadap pulau Lombok pada tahun 1691 sampai tahun 1740, di lokasi kerajaan yang dahulunya disebut Singasari inilah diganti namanya menjadi kerajaan Karangasem Sasak, dan kerajaan ini akan menjadi cikal bakal kerajaan Cakranegara.[13]

Pada tahun 1740 itu diperkirakan seluruh Lombok sudah dapat di kuasai oleh kerajaan karangasem Bali.[14]
pendapat ini diperkuat oleh suatu informasi yang menyebutkan bahwa di beberapa daerah seperti Pejanggik, Purwa, dan Langko diharuskan membayar upeti dengan uang, daerah Sokong dan Bayan di kenakan upeti kapas, sedangkan daearah Praya, dan Batu Kliang di kenakan upeti darah (upeti getih) yaitu tidak membayar upeti dalam bentuk material melainkan apabila terjadi perang mereka harus membantu. Hal tersebut diperkirakan sudah berlangsung sejak tahun 1740.[15]

Dibawah pemerintahan Karangasem Bali, kekuatan politik bukan lagi berada di Lombok Timur, melainkan di pusatkan di Lombok Barat. Pada tahun 1741 raja Karangasem Bali menempatkan seorang penguasa I Gusti Wayan Tegeh yang berkedudukan di Tanjungkarang [16] (sebelah selatan Ampenan sekarang atau berada disebelah barat kerajaan Pagesangan).
Pada masa pemerintahannya ia berhasil memperkuat kedudukan Karangasem Sasak di pulau Lombok. di bawah perlindungan kerajaan Karangasem Bali, ia melakukan kegiatan dalam bidang perpajakan dan perdagangan. Setelah ia meninggal pada tahun 1775, ia digantikan oleh kedua putranya, yaitu I Gusti Made Karang yang di sebut dengan nama I Gusti Ngurah Made berdiam di Tanjungkarang, dan I Gusti Ketut Karang bertempat tinggal di Pagesangan. Kematian I Wayan Tegeh ternyata menimbulkan perpecahan, karena pengganti-penggantinya itu saling berebut kekuasaan. Konflik ini masih berlangsung sampai permulaan abad XIX dan bersamaan dengan munculnya dua kerajaan kecil lainnya yaitu kerajaan Sakra di Lombok Timur, dan kerajaan Kopang ada di Lombok Tengah. [17]

MUNCULNYA KERAJAAN KARANGASEM SASAK DI LOMBOK

Sejak meninggalnya I Gusti Wayan Tegeh pada tahun 1775, Tanjungkarang tidak lagi memegang peranan penting dan digantikan oleh munculnya kerajaan Karangasem sasak yang sejak tahun 1720 telah berada di bawah pemerintahan I Gusti Anglurah Made Karangasem, Dewata di Pesaren Anyar Bali. Tidak banyak yang dapat di ketahui tentang kegiatannya, namun dalam struktur pemerintahan kerajaan Karangasem Sasak di Lombok ia menempati status yang paling tinggi yaitu sebagai wakil (koordinator) kerajaan Karangasem di pulau Bali. pada saat itu raja Mataram berstatus sebagai Patih, sedangkan raja-raja kecil lainnya seperti kerajaan Pagutan, Pagesangan, Sengkongo`, dan kerajaan Kediri memiliki status sebagai manca [18].
Semua penguasa di masing-masing kerajaan itu masih mempunyai hubungan kekeluargaan. Untuk menjaga persatuan dan kesatuan diantara mereka, maka pada tahun 1720 kerajaan Karangasem Sasak di Lombok membangun sebuah pura yang megah sebagai tempat persembahyangan, yaitu pura Meru di Cakranegara Lombok sekarang [19].

Raja I Gusti Anglurah Made Karangasem yang kemudian setelah meninggal di sebut Dewata di Karangasem Sasak, mempunyai dua orang istri dan sepuluh orang anak. Diantara anaknya itu ada yang bernama Ratu Ngurah Made Karangasem, yang menggantikannya sebagai raja di kerajaan Karangasem Sasak. Dia kawin dengan saudara sepupunya yaitu putri dari raja Karangasem Bali, bernama I Gusti Ayu Agung[20].
Pada masa pemerintahannya, kerajaan Karangasem Sasak kekuasaannya semakin besar, beberapa kerajaan kecil seperti kerajaan Sengkongo`, dan kerajaan Kediri pada tahun 1804 ada dibawah kekuasaannya[21].

Kerajaan Karangasem Sasak Lombok yang dipimpin oleh Ratu Ngurah Made Karangasem ternyata keadaannya makin kuat dan mapan. Oleh karena itu berusaha melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan Karangasem di pulau Bali[22] .
sementara itu melihat kekuasaan dari raja Karangasem Sasak, yang dapat menguasai seluruh Lombok. I Gusti Lanang Paguyangan (raja Karangasem di Bali pada waktu itu) berusaha menjatuhkan kerajaan Karangasem Sasak Lombok dengan jalan membesar-besarkan berita bahwa perkawinan raja Karangasem Sasak dengan I Gusti Ayu Agung tidak sah[23].
Hal ini dipakai alasan dalam membujuk raja Mataram Lombok I Gusti Ngurah Ketut Karangasem agar mau menyerang kerajaan Karangasem Sasak.

Pada tahun 1835 raja Karangasem Sasak Ratu Ngurah Made Karangasem meninggal, kemudian digantikan oleh putranya Ratu Gusti Ngurah Panji yang kemudian bergelar I Gusti Ngurah Made Karangasem, dibawah pemerintahannya konflik antara kerajaan Karangasem Sasak dengan kerajaan Mataram semakin tajam, oleh adanya campur tangan dua orang pedagang asing yaitu Mads Lange dari Denmark dan George Morgan King dari Inggris. Mads Lange menjalankan usahanya di pelabuhan Tanjungkarang sedangkan King di pelabuhan Ampenan.. kedua pedagang ini diijinkan oleh raja kerajaan Karangasem Sasak untuk menjalankan usahanya. George Morgan King berambisi sekali untuk mendapatkan monopoli perdagangan di Lombok, sehingga menimbulkan konflik dengan syahbandar Cina di Ampenan. Akhirnya pada tahun 1836 dia diusir dari Ampenan oleh raja Karangasem Sasak sehingga ia pindah ke Kuta Bali. Di Kuta ia tinggal hanya beberapa bulan saja, kemudian dia datang lagi ke Ampenan dan minta perlindungan raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem. Rupanya pedagang asing itu memanfaatkan sekali situasi konflik antara dua kerajaan tersebut untuk meraih keuntungan, terutama dalam perdagangan senjata, mesiu, dan alat-alat perang lainnya[24].

Pada bulan Januari 1838 pecahlah perang antara kerajaan Karangasem Sasak melawan kerajaan Mataram. Perang itu meletus di sebabkan oleh pertikaian masalah air antara desa Kateng (wilayah Lombok Tengah bagian selatan) yang ada di bawah kekuasaan kerajaan Karangasem sasak dengan desa Penujak (juga wilayah Lombok Tengah bagian selatan) yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Mataram. Raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem menyatakan perang karena kerajaan Karangasem Sasak mengambil desa Penujak dan daerah sekitarnya ke dalam wilayahnya.

Pada mulanya Karangasem Sasak lebih kuat di banding dengan Mataram, namun kemudian keadaannya menjadi berubah kerajaan Mataram berangsur-angsur bertambah kuat berkat datangnya bantuan dari Karangasem di Bali. Demikian juga King membantu Mataram dengan kapalnya mengangkut senjata yang dibeli dari Singapura dan pasukan sekitar sepuluh ribu orang yang didatangkan dari Karangasem[25].

Akhirnya pada pertengahan tahun 1838 raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem tewas. Pasukan Mataram terus mengepung istana kerajaan Karangasem Sasak sehingga raja Karangasem Sasak I Gusti Ngurah Made Karangasem melakukan perang habis-habisan, yaitu puputan bersama lebih kurang tiga ratus orang termasuk keluarganya, kecuali dua orang anaknya laki-laki berumur 10 tahun dapat di selamatkan[26] .
setelah kerajaan Mataram menang melawan kerajaan Karangasem Sasak. Raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem yang langsung menggantikan ayahnya yang gugur, dan mengangkat Ida Ratu menjadi raja di Karangasem Sasak dengan gelar I Gusti Ngurah Made karangasem.

Menjelang akhir tahun 1838 raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem memindahkan Ibukota kerajaannya ke wilayah kerajaan Karangasem Sasak Lombok, kemudian beberapa tahun kemudian bekas ibukota Karangasem Sasak selesai dibina, dan tahun 1866 diganti namanya menjadi kerajaan Cakranegara. Cakra menurut bahasa sansekerta berarti lingkaran atau bundaran, dan Negara adalah kota, hunian, atau negeri. Jadi Cakranegara berarti kota hunian yang bundar melingkar[27].

MASA-MASA KEPEMERINTAHAN KERAJAAN CAKRANEGARA LOMBOK

Masa dari tahun 1866 sampai 1900 pemerintahan Cakranegara tumbuh subur dan makmur [28] walaupun pada waktu itu ada beberapa kekacauan seperti terjadi perselisihan-perselisihan antara masyarakat Hindu dengan masyarakat asli (suku Sasak), dilanjutkan dengan datangnya ekspedisi Belanda tahun 1894 mulai ada campurtangan Belanda, hal ini tidak terlalu berpengaruh terhadap perkembangan kota Cakranegara.

Masa dari tahun 1900 sampai 1945 (masa kebangkitan Nasional), pada masa ini terjadi dualisme pemerintahan. Pemerintahan Hindu berpusat di Cakranegara, sedangkan pemerintahan Belanda berpusat di pertengahan antara Mataram dengan Ampenan. Belanda mulai mengarahkan usahanya bagi pembangunan ekonomi, dengan cara dibangunnya beberapa sarana dan prasarana pemerintahan seperti gedung kantor (kantor assisten residen, kontrolir, distrik), pasar, perumahan, dan jalan raya.

Pada masa ini sudah mulai diperhatikan tentang pengembangan wilayah, tidak saja pengembangan dari segi fisik namun dari segi lainnya seperti : pendidikan , ekonomi, dan sosial budaya. dengan berkembangnya sistem pendidikan modern pengaruh kekuatan Eropa mulai menyerap secara berangsur-angsur terutama wilayah Ampenan, sedikit berpengauh di wilayah Mataram dan Cakranegara. dengan dibangunnya sebuah HIS, beberapa buah volkschool dan vervolgschool di tiap-tiap ibukota kedistrikan.

Jika sebelum kekuasaan Belanda datang di pulau Lombok ini hampir seluruh orang Sasak maupun orang Hindu menumpu kehidupannya dari hasil pertanian. Pada masa kedudukan Belanda hubungan dengan dunia luar cukup baik, hal ini terbukti oleh adanya kedatangan bangsa-bangsa lainnya seperti Cina dan Arab, berdatangan menginjak ke Pulau Lombok ini melalui pelabuhan Ampenan. Dan akhirnya di kota Ampenan inilah mulai berkembang pusat perdagangan sebagai benteng perekonomian bagi bangsa Belanda dan lambat laun mengarah ke Mataram dan akhirnya ke Cakranegara.

Masa dari tahun 1945 sampai 1959. pada masa ini pergantian kepemimpinan pemerintahan di pulau Lombok. Untuk Lombok timur oleh Mamiq Padelah, Lombok tengah Lalu Srinata, dan Lombok barat I Gusti Ngurah berpusat di Cakranegara. pada tahun 1950, masuk wilayah republik Indonesia dan terbentuknya pemerintahan daerah tingkat I Nusa Tenggara Barat berpusat di Mataram, tentang perpindahan ibukota pemerintahan ke wilayah Mataram tidak dijelaskan secara rinci.

Masa dari tahun 1959 sampai 1965 (daerah tingkat II Lombok Barat dengan bupati pertama Lalu Anggrat, BA). Pada masa ini pusat pemerintahan tidak lagi di Cakranegara, melainkan di Mataram, oleh sebab itu kebijakan pemerintah pada masa ini lebih banyak mengambil tindakan yang strategis dan mendasar dibidang pemerintahan untuk kota Mataram khususnya, dan menghapus struktur birokrasi pemerintahan wilayah kepunggawaan orang Bali, (kepunggawaan Cakranegara) diganti dengan kedistrikan Cakranegara yang tidak lagi khusus membawahi seluruh permukiman masyarakat Hindu-Bali. Kedudukan kedistrikan Cakranegara disamakan dengan kedistrikan lainnya yang mempunyai satu wilayah pemerintahan berdasarkan teritorial.

Masa dari tahun 1965 sampai 1972 (daerah tingkat II Lombok Barat dengan bupati kedua Drs. Sa`id). Pada masa ini sistem pemerintahan kedistrikan yang di bentuk oleh Lalu Angrat, BA dihapus karena mempunyai nuansa “negara di dalam negara” dan diganti dengan pemerintahan Kecamatan.

Sejak dari tahun 1972 sampai sekarang, kota Cakranegara yang dahulunya merupakan ibukota pemerintahan terbesar di pulau ini, kini berubah menjadi sebuah kota kecamatan, di bawah kodya Mataram. Hal ini sedikit berpengaruh terhadap penentuan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan wilayahnya.