Thursday, May 30, 2013

GAJAH MADA seorang muslim...???

Situs Trowulan adalah satu-satunya situs kota Hindu-Budha klasik usia di Indonesia yang masih dapat ditemukan. Situs ini meliputi area seluas 11 km x 9 km, yang meliputi Kecamatan Trowulan dan Sooko di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Mojoagung dan Mojowarno di bawah Kabupaten Jombang. Situs dari mantan ibukota Kerajaan Majapahit ini dibangun di atas medan datar di kaki tiga gunung, yaitu Penanggungan, Welirang, dan Anjasmara Mountain. Secara geografis, wilayah Trowulan cocok untuk pemukiman manusia karena didukung oleh pesawat topografi dengan air tanah yang relatif dangkal. Ratusan ribu sisa-sisa arkeologi kota tua di Situs Trowulan ditemukan terkubur di bawah tanah serta pada permukaan dalam bentuk: artefak, disinilah jejak terbesar kerajaan besar nusantara Majapahit berada.

Situs menarik dari sisa-sisa Kerajaan Majapahit ditemukan melalui penelitian yang luas dan panjang.Penelitian pertama di Situs Trowulan dilakukan oleh Wardenaar pada tahun 1815. Ditugaskan oleh Sir Raffles, Wardenaar membuat catatan peninggalan arkeologi di wilayah Mojokerto dan karyanya dikutip dalam buku Raffles "History of Java" (1817) yang terkena berbagai benda purbakala yang ditemukan di Trowulan dari Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1849, sebuah tim arkeolog, WR van Hovell, JVG Brumund, dan Jonathan Rigg menerbitkan penelitian mereka dalam "Jurnal Kepulauan India dan Asia Timur". Buku lain pada temuan Trowulan berjudul "Toelichting atas den Ouden Pilaar van Majapahit" ditulis oleh J. Hageman tahun 1858. Kemudian, R.D.M. Verbeek membuat situs kunjungan ke Trowulan dan mengeluarkan laporan dalam sebuah artikel berjudul "Oudheden van Majapahit tahun 1815 en 1887", diterbitkan dalam TBG XXXIII tahun 1889. Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh R.A.A. Kromodjojo Adinegoro Bupati (Kepala) Kabupaten Mojokerto (1849-1916) yang memiliki perhatian besar pada Warisan Arkeologi di Trowulan. Dia digali sistem air tua yang bernama "Tikus" Temple atau Kuil Mouse dan Adinegoro juga memprakarsai pembentukan Museum Mojokerto yang menyimpan artefak arkeologi dari Kerajaan Majapahit. Sementara itu, J. Knebel, anggota Comissie voor Oudheidkundig Orderzoek op Java en Madura pada tahun 1907 mendokumentasikan warisan arkeologi Trowulan. Sarjana lain, NJ Krom, terakhir warisan dari Kerajaan Majapahit di Trowulan dalam bukunya Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kunst (1923).



Penelitian lebih intensif dilakukan pada pembentukan Oudheidkundige Vereeneging Majapahit (OVM) pada tahun 1924 yang diprakarsai oleh RAA Kromodjojo Adinegoro bekerja sama dengan seorang Belanda dengan nama Ir. Henry Maclaine Pont dengan kantor di Trowulan. Kantor ini ditetapkan sebagai museum rumah dan pameran benda-benda peninggalan dari era Majapahit. Antara 1921-1924, Maclaine Pont memimpin penggalian di Trowulan untuk memverifikasi data dari naskah Nagarakartagama dan memberikan sketsa rekonstruksi awal kota Majapahit di Trowulan.

Stutterheim yang melakukan penelitian pada struktur ibukota Kerajaan Majapahit juga menggunakan naskah Nagarakartagama pupuh VIII - XII sebagai acuan utama dan menyimpulkan bahwa perencanaan kota Istana Majapahit analog dengan bahwa dari Yogyakarta dan Keraton Surakarta.Studi lebih lanjut menunjukkan bahwa konstruksi di kompleks istana menyerupai desain dari senyawa Bali istana (Stutterheim, 1948).Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh Pusat Nasional untuk Arkeologi Penelitian (Puslit Arkenas) pada tahun 1970 hingga 1993. Pusat Penelitian terus mencari lebih banyak bukti dari kota tua melalui penggalian arkeologi dengan menggunakan petunjuk (nama tempat) ditemukan dalam naskah Nagarakartagama sebagai referensi atau berdasarkan temuan baru yang ditemukan oleh masyarakat setempat. Penelitian pada saat itu menerapkan strategi sporadis dan ditemukan bahwa Situs Trowulan merupakan akumulasi dari berbagai artefak tidak hanya menunjukkan bukti pemukiman manusia, tetapi juga situs lain yang digunakan untuk kegiatan upacara, ritual, suaka, kegiatan industri, rumah potong hewan, penguburan , sawah, pasar, saluran air dan waduk. Situs-situs membagi kota menjadi daerah yang lebih kecil yang dihubungkan oleh sistem jalan. Namun, hasil dari penelitian ini belum mampu memberikan potret lengkap dari seluruh kota Majapahit seperti yang digambarkan oleh Prapanca dalam menulis sastra di Nagarakartagama.

Sebuah pemahaman yang lebih komprehensif dari Situs Trowulan diakuisisi melalui foto udara dari situs yang diambil oleh Tim Geografi Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa Situs Trowulan adalah sebuah kota yang memiliki sistem kanal. Sejak 1926, berbagai penelitian telah mengungkapkan bahwa Situs Trowulan memiliki 18 bendungan besar dan kecil yang terhubung ke sistem irigasi dengan saluran lebar dan sempit. Dari tampilan udara dari kota tua Majapahit, dapat diamati bahwa kanal air kuno simetris dibangun dan tampaknya telah membentuk kota.Tahun demi tahun, kegiatan penelitian dan pelestarian lebih dilakukan di Situs Trowulan tidak hanya oleh Pusat Pelestarian Warisan Budaya Jawa Timur, yang bertanggung jawab untuk melestarikan situs, tetapi juga oleh lembaga lain dan akademisi yang memiliki perhatian terhadap warisan Kerajaan Majapahit mulia di Situs Trowulan. Seperti waktu berjalan, banyak situs bangunan dan sisa-sisa pemukiman manusia telah digali, dipulihkan, dipelihara dan dimanfaatkan seperti Candi Tikus (Candi Tikus), Gateway of Bajangratu, Baru Temple, Gentong Temple, Gateway Wringinlawang, Kedaton Temple, dan Penyelesaian Sentonorejo.

Ribuan artefak dari Situs Trowulan telah ditemukan dan dilestarikan. Sebagian besar dari artefak ini ditemukan oleh para ahli dan yang ditemukan oleh masyarakat setempat diselenggarakan di Pusat Informasi Majapahit atau dikenal sebagai Pusat Informasi Majapahit (PIM). Artefak Majapahit diklasifikasikan berdasarkan substansi materi artefak:a. Terracotta Artefak (terbuat dari gerabah tanah liat) terdiri dari: 1) Patung / Patung atau patung manusia (menampilkan ras yang berbeda seperti Cina, India, Arab), 2) Peralatan Rumah Tangga seperti botol air, bak air, piggy-bank; 3) alat produksi, antara lain: cetakan patung, kowi (cetakan logam yang baik, terbuat dari tanah liat), dan 4) Elemen bangunan dan perumahan seperti miniatur rumah, pilar sebagai maquette, genteng, puncak, pipa air, dan jaladwara ( saluran air candi).

b. Artefak keramik (terbuat dari keramik) seperti piring, mangkuk, vas, sendok baik buatan lokal atau dari asal asing.c. Logam artefak (terbuat dari logam) antara lain: koin baik buatan lokal dan dari asal-usul asing, alat yang digunakan untuk upacara-upacara seperti lonceng, cermin, zodiak baker, membakar dupa.d. Artefak batu (terbuat dari andesit atau tuff) seperti keringanan, patung-patung dan tablet batu.Menganalisis berbagai artefak, banyak peneliti kemudian mempelajari lebih lanjut peradaban era Majapahit, yang berhubungan dengan berbagai aspek seperti sistem ekonomi, agama, sastra, teknologi, seni, hukum, pertanian dan lingkungan. Hasil dari studi dan penelitian mendalam ini telah memperkaya kekayaan pengetahuan tentang temuan Kerajaan Majapahit dan telah memungkinkan para ahli untuk merekonstruksi peradaban waktu itu.

Berdasarkan temuan warisan tersebar baik dalam bentuk sisa-sisa bangunan kuno dan permukiman manusia serta artefak individu, Nurhadi Rangkuti kemudian mengusulkan hipotesis bahwa daerah ibukota Majapahit di Trowulan seluas 9 x 11 persegi km. Hipotesis ini berlaku analogi pola kota di era Mataram Islam yang menunjuk masjid sebagai tengara untuk perbatasan kerajaan. Dengan asumsi bahwa budaya adalah proses difusi lanjutan, kota Kerajaan Majapahit harus telah didasarkan pada sebuah kota perencanaan konsep yang mungkin mirip dengan Kerajaan Mataram.


Hasil dari penelitian ini luas di The Trowulan Site jelas menunjukkan bahwa Situs Trowulan adalah lokasi sisa-sisa ibu kota Kerajaan Majapahit selama lebih dari 200 tahun antara 13 - abad ke-15, dan situs ini dihargai sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah dan budaya Indonesia peradaban.


Pembenaran Nilai Universal Istimewa

 (I) Merupakan sebuah karya jenius kreatif manusiaArtefak beragam yang mendukung Situs Trowulan sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit dapat diamati hingga saat ini. Sisa-sisa arkeologi dan ribuan artefak yang ditemukan di The Trowulan Situs indikasi kuat bahwa Trowulan adalah sebuah kota modern pada saat itu.Dari bukti-bukti arkeologi yang ditemukan di situs tersebut, dapat disimpulkan bahwa ibu kota Kerajaan Majapahit di Situs Trowulan dibangun melalui proses musyawarah dan dilakukan dengan perencanaan yang menyeluruh dengan arsitektur rinci dan modern yang mempromosikan kearifan lokal dalam merawat lingkungan. Ini memberikan bukti akumulasi pengetahuan dan ide-ide dari peradaban canggih nenek moyang Indonesia pada abad 12 dan 14.

Beberapa ahli mempelajari Situs Trowulan untuk menafsirkan berbagai kemungkinan alasan untuk memilih daerah ini sebagai ibu kota bagi Kerajaan Majapahit di masa lalu. Berikut ini adalah beberapa pertimbangan:


a. Wilayah ini merupakan daerah yang sangat subur karena ada sedimen kuartal vulkanik yang mengandung pasir atau kerikil pyroc clastica. Bahan-bahan ini berasal dari gunung berapi di bagian selatan dari daerah yang dikenal sebagai Kompleks Arjuna terdiri dari pegunungan vulkanik Anjasmoro, Welirang, dan Penanggunangan. Gunung Anjasmoro adalah gunung berapi tertua di daerah itu telah bergeser. Menjadi tidak stabil, batuan gunung bisa bergerak. Batuan ini bergerak menjadi aliran lumpur vulkanik ketika hujan melanda daerah tersebut dan berkembang menjadi berbentuk kipas fluvio sedimen vulkanik. Dari analisis ini, dapat disimpulkan bahwa daerah Trowulan berada di ujung kipas vulkanik fluvio. Selanjutnya, didukung oleh aliran sungai dari Sungai Ginting dan Sungai Brangkal dan memiliki topografi datar yang kaya dengan fluvio sedimen vulkanik, daerah ini menyediakan sumber daya yang stabil dan subur untuk mempertahankan kehidupan rakyat.


b. Setelah dekat dengan gudang air Sungai Brantas dan sungai kecil lainnya, wilayah Trowulan memiliki akses mudah dengan daerah lain.


c. Kanal-kanal yang dibangun secara sistematis yang membelah kota Majapahit adalah hasil dari musyawarah bijaksana dan peradaban maju menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa iklim di bahwa usia di daerah Trowulan dan sekitarnya belum berubah secara signifikan dibandingkan dengan iklim hujan tropis saat ini yang dikategorikan sebagai tipe AW. Menurut Koppen, di bawah jenis iklim, curah hujan yang tinggi pada bulan-bulan hujan tidak dapat mengimbangi curah hujan rendah di musim kemarau. (Sutikno, 1993). Pada kondisi ini, wilayah Trowulan dan sekitarnya mungkin mengalami 4 sampai 6 bulan kekeringan dalam setahun.Meskipun memiliki dua sungai - Gunting Sungai dan Brangkal Sungai, di musim kemarau volume kedua sungai dapat menyusut dan sebaliknya terjadi pada musim penghujan. Banjir dapat terjadi dan mengembangkan fluvio vulkanik fan (Sutikno, 1993). Oleh karena itu, angsuran sistem kanal tentu dibenarkan.


Dengan 20 sampai 40 kanal melintasi wilayah Majapahit meter-lebar, kota ini dirancang di bawah pola terorganisir dengan bangunan terletak di bagian-bagian tertentu dari kota.Memiliki sebuah kota yang terencana, Majapahit jelas merupakan pusat bagi pemerintah. Jaringan kanal di Situs Trowulan silang-menyilang kota hampir tegak lurus. Rupanya kota Majapahit dikembangkan berdasarkan pola papan catur yang dibentuk oleh kanal yang relatif lurus dan tegak lurus membentang dari utara ke selatan dan dari barat ke timur. Jalannya kanal itu belum tentu sejajar dengan sumbu magnetik utara-selatan bumi. Kanal-kanal yang sedikit bergeser -100 ke kanan, searah jarum jam di kuadran Cartesian. Tampak bahwa kanal yang disesuaikan dengan kondisi geografis. Dilihat dari jarak grid kanal di peta, di bagian barat, kanal utara-selatan yang terletak relatif dekat satu sama lain dibandingkan dengan mereka yang dibangun di bagian timur. Hal ini menunjukkan bahwa di zona di mana kanal yang relatif dekat, daerah ini termanfaatkan untuk penyelesaian, pusat kota dan istana raja. Sementara itu, kanal-kanal timur-barat yang dibangun lurus dan berpotongan bagian tengah sistem kanal memberikan bukti bahwa ada link untuk kegiatan sosial budaya yang menghubungkan bagian timur, barat, utara dan bagian selatan ke bagian tengah kota. Kanal-kanal juga terkait dengan jaringan jalan yang dibangun sejajar dengan kanal baik pada satu atau kedua sisi kanal.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem saluran dan bangunan air yang dibangun di era Majapahit menjabat sebagai sarana irigasi untuk pertanian dan digunakan untuk menyalurkan air ke dalam waduk. Trowulan memiliki lima waduk yakni Dam Baureno, Kumitir Dam, Domas Dam, Temon Dam, Kraton Dam dan Kedung Wulan Dam. Selain bendungan tersebut, Trowulan memiliki tiga kolam buatan manusia diposisikan erat, yaitu Bunder Balong, Balong Dowo, dan kolam Segaran.Bendungan-bendungan berfungsi sebagai reservoir air, untuk mengendalikan banjir, dan mengelola kelembaban daerah.


d. Sebagai sebuah kota, Situs Trowulan memegang berbagai warisan budaya dari berbagai aspek kehidupan-baik sakral dan profan-yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Arsitektur dan patung relief pada struktur warisan di Trowulan Site menampilkan keahlian dari para arsitek dan pengrajin dalam mengintegrasikan budaya eksotis dengan budaya lokal.


(V) Jadilah contoh yang luar biasa dari jenis bangunan, ansambel arsitektur atau teknologi atau lanskap yang menggambarkan tahapan penting dalam pemukiman manusia tradisional, penggunaan lahan, atau budaya laut yang menunjukkan interaksi budaya (atau budaya), atau interaksi manusia dengan alam, terutama ketika telah menjadi rentan di bawah dampak perubahan ireversibel;


Di masa lalu, sejarawan dan ahli kajian budaya hanya meneliti struktur kuno era Hindu-Buddha di Indonesia. Arkeolog dan arsitek cenderung berfokus pada bangunan sakral umumnya dikenal sebagai candi. Sementara itu, hanya sedikit perhatian telah diberikan untuk mempelajari struktur non-kuil seperti pemukiman manusia, karena tidak ada struktur lengkap pemukiman manusia yang pernah ditemukan. Sebagai soal fakta, dari beberapa penelitian, hal itu menunjukkan bahwa tidak jauh dari kuil-kuil, ada jejak pemukiman manusia di sekitar kompleks struktur candi yang telah diidentifikasi.Mundardjito et al telah menemukan sisa-sisa pemukiman ke arah selatan dari Bawongan Temple pada tahun 1976, dan menemukan sebuah situs pemukiman di sekitar kompleks Candi Borobudur, yang terletak di lapangan atas dan sebuah pemukiman di selatan dan barat daya candi dataran rendah Borobudur Candi di tahun 1970-s. Mencermati temuan ini, Boechari dalam artikelnya yang berjudul "Temples dan Lingkungan", mengusulkan hipotesis bahwa candi sebagai tempat ibadah tidak berdiri sendiri. Seiring dengan candi ini yang berfungsi sebagai pusat ritual, ada permukiman bagi masyarakat setempat, para imam dan pengurus kuil-kuil (Boechari, 1977).

Selain permukiman kuno dalam kedekatan candi, Indonesia memiliki sebuah situs arkeologi yang jelas menampilkan sisa-sisa pemukiman manusia dalam skala kota-Trowulan Situs di Mojokerto, Jawa Timur.Memiliki cakupan luas tersebut, Trowulan situs rumah kekayaan warisan dalam bentuk candi, gateway, struktur air, waduk, sistem kanal, elemen konstruksi, ribuan terakota dan alat keramik yang digunakan untuk keperluan rumah tangga. Di antara temuan ini, ada banyak situs sisa-sisa pemukiman manusia yang juga mengungkapkan. Menurut Soekmono, dari banyak kerajaan Hindu-Budha di Indonesia yang ada sebelum Kerajaan Islam (sebelum 1500 M), hanya Kerajaan Majapahit (14 sampai abad ke-16 AD) telah memberikan peninggalan pemukiman manusia di Situs Trowulan. Menghasilkan warisan yang kaya seperti itu, situs Trowulan dianggap oleh banyak ahli sebagai sangat penting dan langka. Satements keaslian dan / atau integritas 
 Trowulan Situs memiliki banyak nilai yang signifikan sebagai berikut:1. Trowulan Site memiliki nilai ilmiah yang sangat diperlukan sebagai sumber analogi untuk mempelajari masa lalu.Kota Majapahit adalah salah satu contoh pemukiman kota klasik di Indonesia yang berfungsi sebagai patokan untuk mempelajari kota-kota kuno lainnya di Asia Tenggara dan kota-kota lebih kuno di Indonesia (Mataram Kuno) dalam hal perencanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan dan lainnya aspek.2.Trowulan Situs memiliki nilai relatif dan teknis.Unsur-unsur utama dari penyelesaian kota Majapahit seperti kolam Segaran, kanal-kanal merupakan bukti bahwa tehre adalah pemahaman yang signifikan teknologi hidrolik dan nilai seni yang tinggi dalam hal konsep, teknik dan metode yang sudah diakuisisi oleh nenek moyang bangsa Indonesia di masa lalu .3. Trowulan Site memiliki identitas yang kuat serta nilai-nilai sosialPenyelesaian di kota Majapahit berkaitan erat dengan sebuah kontinum permukiman tradisional dari budaya Bali dalam usia lanjut, di mana kedua pemukiman menunjukkan cara agraria adat kehidupan masyarakat Indonesia.4. Trowulan Situs memiliki nilai pendidikan.Penyelesaian kota Majapahit memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai media pendidikan bagi generasi sekarang dan masa depan. Ini mungkin berfungsi sebagai sarana untuk meneruskan nilai-nilai kearifan lokal yang mencerminkan tradisi untuk memahami dan menyeimbangkan budaya dengan konservasi alam.

Gajah mada seorang muslim
Mengagumkan, ternyata wilayah Majapahit lebih luas dari yang diperkirakan selama ini oleh sejarawan. Riset terbaru tentang penempatan prajurit Majapahit  di luar Jawa menemui fakta yang menakjubkan. Uniknya, pleton pleton kawal Majapahit beranggotakan prajurit beragama Islam. Peninggalannya pun masih bisa dibuktikan hingga sekarang.

Adanya penempatan prajurit Majapahit di Kerajaan Vasal (bawahan) yang terdiri dari 40 prajurit  elite beragama Islam di Kerajaan Gelgel-Bali, Wanin Papua, Kayu Jawa Australia Barat, dan Marege-Tanah Amhem (Darwin) Australia Utara pada abad ke 14 memperkuat bukti bahwa Gajah Mada adalah seorang Muslim.

Prajurit Islam ini berasal dari basis Gajah Mada dalam merekrut prajurit elite yang terdiri dari 3 (tiga) kriteria:
Mada, Gondang ( Tenggulun Lamongan ) dan Badander (Jombang) yang diketahui sebagai basis teman  teman lama beliau.  Dari desa desa ini pemudanya direkrut menjadi Bhayangkara angkatan II dan seterusnya.
Tuban, Leran, Ampel, Sedayu sebagai basis Garda Pantura. Pahang Malaya, Bugis Makasar, dan Pasai sebagai basis tentara Laut  Luar Jawa.

Pada masa itu di Jawa Islam telah berbaur sejak abad ke 10 yang dibuktikan dengan penemuan Prasasti nisan Fatimah  binti Maimun (wafat 1082 M) di Leran, Gresik yang bertuliskan huruf Arab Kufi. Dan Prasasti Gondang - Lamongan yang  ditulis dengan huruf Arab (Jawi) dan huruf Jawa Kuno (Kawi).
Keduanya merupakan peninggalan zaman Airlangga. Sedangkan orang Islam sudah masuk ke Jawa sejak zaman Kerajaan Medang abad ke 7. Islam baru berkembang dengan pesat di Jawa pada abad ke 15, atas peran tak langsung dari politik Gajah Mada, putra desa Mada Lamongan, politikus abad ke 14.

Satuan tentara elite Majapahit sudah dibangun sejak masa Jayanegara (1319), yaitu pasukan kawal raja Bhayangkara, yang dipimpin oleh bekel Gajah Mada. Pada masa selanjutnya satuan elite terus berkembang, terutama pada masa Gajah Mada menjabat sebagai  mahapatih amangkubhumi dari tahun 1334 sampai 1359, sejak masa Tribhuwana Tunggadewi hingga masa Hayam Wuruk. Menurut “Hikayat Raja-raja Pasai”, ketika Majapahit menyerang Pasai, dan dipukul mundur (1345), lalu menyerang kembali dan meluluh lantakan istana Sultan Ahmad Malik Az Zahir (1350), Gajah Mada yang juga seorang muslim, membawa tawanan orang Pasai  yang terdiri dari para ahli, insinyur lulusan Baghdad, Damaskus dan Andalusia. Sedangkan Sultan Pasai melarikan diri dari istana. Setibanya di Majapahit, Gajah Mada membebaskan tawanan tersebut setelah bernegosiasi dengan Prabu Hayam Wuruk.

Kemudian orang Pasai ini bekerjasama dengan Gajah Mada untuk membangun kejayaan Majapahit. Sebagai balas jasa, Majapahit memberi  otonomi kepada Kerajaan Pasai Darussalam, dan menempatkan orang Pasai di komplek elite di ibukota Majapahit Trowulan. Hal ini dibuktikan, pada 1377 Majapahit menghancurkan Kerajaan Budha Sriwijaya dan menguasai seluruh Pulau Sumatera, kecuali Pasai.

“Maka titah Sang Nata akan segala tawanan orang Pasai itu, suruhlah ia duduk di tanah Jawa ini, mana kesukaan hatinya. Itulah sebabnya maka banyak keramat di tanah Jawa tatkala Pasai kalah oleh Majapahit itu” (Kutipan dari “Hikayat Raja-raja Pasai”).

Dengan adanya orang Pasai yang ahli dalam bidang tempa logam, baik itu baja maupun emas, maka didirikanlah bengkel senjata dan  alat pertanian yang sempurna (standar baja Damaskus) , saluran irigasi model Andalusia di Trowulan dan pabrik koin dinar emas Majapahit. Seiring dengan perluasan wilayah Majapahit untuk mewujudkan “Sumpah Palapa”, Gajah Mada membentuk pleton-pleton khusus yang didominasi oleh prajurit Islam.

Prajurit Islam Majapahit di Bali
Penempatan 40 orang prajurit Islam Majapahit di Kerajaan Gelgel – Klungkung, Bali dimulai ketika Raja Gelgel I, Dalem Ketut Ngulesir (1320 – 1400) berkunjung sowan abdi ke Trowulan, tak lama setelah deklarasi pendirian Kerajaan Gelgel tahun 1383. Beliau didampingi oleh Patih Agung, Arya Patandakan dan Kyai Klapodyana (Gusti Kubon Tubuh) yang menghadap Prabu Hayam Wuruk saat upacara Cradha dan rapat tahunan negeri-negeri vasal imperium Majapahit. Ketut Ngulesir memohon dukungan dari Maharaja Majapahit, yang dikabulkan dengan pemberian 1 (satu) unit pleton khusus binaan Almarhum Gajah Mada. (“Kitab Babad Dalem”, manuskrip tentang Raja-raja Bali).

Prajurit Islam ini menikah dengan wanita Bali, dan beranak-pinak disana. Mereka sangat setia membentengi Puri Gelgel – Klungkung. Bahkan meskipun pada akhirnya imperium Majapahit runtuh (1527), tapi Prajurit Islam tetap menjadi tentara elite Kerajaan Gelgel, dari generasi ke generasi. Begitu pula di Kerajaan Buleleng, prajurit Islam membentengi Puri Buleleng dari serangan Raja Mengwi dan Raja Badung dari Kerajaan di Bali Selatan.

Saat ini kita masih dapat saksikan di Bali, keturunan prajurit Islam Majapahit yang telah mencapai ribuan orang Islam asli Bali (mereka menggunakan nama Bali, untuk membedakan dengan muslim pendatang) tepatnya di desa Gelgel, Klungkung dan di desa Pegayaman, Buleleng – 70 km arah utara Denpasar. Mereka adalah penduduk mayoritas di desa-desa kuno tersebut.

Sebelum Gajah Mada (wafat 1364) telah membangun sistem perekrutan satuan tentara elite yang beranggotakan prajurit Islam, dibekali dengan senjata pamungkas, dan berperang sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW. Kedua, Prabu Hayam Wuruk diduga telah mengetahui bahwa Gajah Mada bukan Sudra, melainkan seorang Muslim. Kemungkinan info yang rahasia ini diperoleh dari Ibunda Ratu Tribhuwana
Tunggadewi.

Untuk menghormati almarhum Gajah Mada, beliau tidak mencerai-beraikan pleton pleton Muslim yang berjumlah 40 orang, karena dalam Madzhab Imam Syafi’i, syarat minimal untuk mendirikan sholat Jumat adalah 40 orang. Ketiga, kemampuan tempur 40 orang prajurit Islam dapat menghancurkan 200 sd 400 orang tentara reguler musuh. Karena mereka dibekali kemampuan militer  yang menguasai berbagai jenis senjata. Hal ini dibuktikan dalam perang mempertahankan Puri Buleleng dari serbuan pasukan gabungan dua Kerajaan Mengwi dan Badung, yang terletak di Bali Selatan.

Hayam Wuruk kagum atas kesetiaan dan ketetapan janji orang Islam. Mereka tidak terpengaruh  godaan harta, wanita dan tahta yang bukan haknya. Mereka tidak pernah mabuk, berjudi, maling dan berzina ( kebiasaan buruk di Majapahit adalah mabuk dan berjudi, serta wanita ). Ketika pleton prajurit Islam Majapahit ini mengawal pulang rombongan Raja Gelgel, Ketut Ngulesir, mereka dibekali oleh Hayam Wuruk berupa puluhan ribu koin cash Cina dan koin Gobog Wayang (koin kepeng tembaga) serta ratusan koin dinar emas Majapahit.Ini sebagai balasan atas penyerahan upeti dari Kerajaan Gelgel Klungkung berupa hasil bumi, hewan ternak dan tangkapan, perhiasan dan kerajinan tangan rakyat Gelgel. Hayam Wuruk berharap, stok koin-koin tersebut mampu merangsang tumbuhnya ekonomi di Gelgel. Sejak saat itu Pura Klungkung dan Pura Buleleng telah akrab dengan koin dinar emas dalam ritual ibadah mereka.

Prajurit Islam Majapahit di Wanin Papua

Saat Prof. JH Kern dan NJ Krom meneliti kitab Nagarakertagama yang ditemukan (dijarah) oleh JLA Brandes dari istana Cakranagara,  Lombok (1894). Prof. Kern dan Krom, 1920, mendapati fakta bahwa kekuasaan Majapahit di Papua Barat dibuktikan dengan adanya penempatan prajurit Islam di Wanin – Papua. Berdirinya Kerajaan Wanin di Fak-fak hingga Biak merupakan vasal Majapahit. Sampai sekarang, Raja-raja dan rakyat di Wanin dan Fakfak sangat kental nuansa Islamnya dan sangat fasih menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Saat Majapahit runtuh, pada abad ke 16, Kerajaan Wanin bergabung dengan Kerajaan Ternate Darussalam di Maluku Utara, yang dulunya juga merupakan bawahan Majapahit. Diperkirakan situs Majapahit di Papua tersebar luas di Fak-fak, Biak dan Raja Ampat. Keturunan mereka berbeda dengan ras Papua.

Prajurit Islam Majapahit di Marege – Australia

Menurut Prof. Regina Ganter, sejarawan dari University of Griffith, Brisbane, Australia – belum lama ini meriset suku Aborigin Marege yang berbahasa Melayu Makasar. Marege adalah desa kuno di tanah Arnhem, di daerah Darwin, Australia Utara. Regina mendapatkan fakta yang menakjubkan , bahwa komunitas Muslim kuno Aborigin berasal dari Kerajaan Gowa Tallo, Makasar, sudah ada sejak abad ke 17 (1650 an), dan menyebarkan Islam di Australia Utara hingga ke desa Kayu Jawa di Australia Barat.

Orang Marege hingga hari ini menyebut rupiah untuk kata ganti uang, padahal mata uangnya adalah dollar.
Juga menyebut dinar untuk koin emas Australia. Dahulu sempat ditemukan koin Gobog Wayang di desa Marege Darwin. Padahal koin Gobog merupakan koin resmi Majapahit. Ini menunjukkan adanya jejak prajurit Majapahit abad ke 14 yang dikirim ke Marege, Dalam risetnya, Prof. Regina menuturkan bahwa sejak masa Sultan Hasanuddin (1653-1669) kapal-kapal Pinisi dari Makasar menguasai perairan teluk Carpentaria – Darwin, mereka mencari tripang. Di tanah Arnhem, Marege, orang Makassar berhubungan
dengan suku Aborigin, menikah dan beranak pinak membentuk komunitas Aborigin Muslim. Dalam kebudayaan Marege, nampak jelas mereka menggambar kapal Pinisi Makasar dalam karya seni kuno mereka. Uniknya, kapal bercadik Majapahit pun terpahat dalam seni ukir dan lukis mereka yang berusia ratusan tahun.

Ketika orang Inggris menjajah rayah desa Marege dan desa Kayu Jawa, mereka nyaris menghancurkan budaya Islam suku Aborigin Marege pada abad ke 20 seiring arus Westernisasi di negeri Kanguru. Karya seni Marage banyak yang diboyong ke Eropa. Orang Marege menyebut orang Inggris sebagai ‘Balanda’, sedangkan orang Kayu Jawa menyebutnya ‘Walanda’, dan perang melawan orang Inggris disebut ‘Jihad Kaphe’.

Sesungguhnya kita adalah Bangsa yang besar dan jaya, pernah membangun perdaban Superpower – Nusantara. Mari bersatu, hilangkan egoisme SARA dan sinisme, marilah kita bangkit dan membangun kembali Nusantara dan Menjaga kebesaran NKRI ( negara kesatuan Republik Indonesia ). Jangan pernah rela negara ini dipecah pecah oleh bangsa penjajah modern.

Banyak fakta dan kebenaran yang dikaburkan oleh bangsa asing tentang kejayaan Indonesia dengan kerajaan kerajaan besarnya seperti kerjaaan Sriwijaya dan kerajaan Majapahit. Banyak bukti dan bekas peninggalan sejarah bumi ini yang telah dijarah bangsa dan warga negara bangsa lain. Jika kita sulit menentukan bekas sebuah kerjaan besar nusantara bisa jadi barang peninggalannya telah diambil semua oelh bangsa penjajah, seandainya masih ada paling sisa candi dan pualan besar seperti borobudur.

Sejarah harus diangkat dan dijernihkan agar akta pendirian negara ini sejak zaman kerajaan tidak musnah, tidak mudah diklaim dan diakui bangsa lain, sudah terpikirkan oleh pendahulu orang orang hebat nusantara meninggalkan prasasti sejarah, tapi kini peninggalan itu telah disimpan oleh penduduk dan negara lain. lihat saja banyak situs penjual barang peninggalan purbakala orang asing yang mengoleksi prasasti kuno negeri ini, prasasti kuno yang menandakan adanya jejak kerajaan besar nusantara.

Sudah seharusnya negara ini menyita semua barang peninggalan negeri ini yang dimiliki bangsa lain, karena prasasti adalah bukti otentik sebuah catatan sejarah dunia tiap negara. Jangan cuma ribut soal politik dalam negeri, negara ini sudah diambang kehancuran jika tidak hati hati. Selamatkan harta negeri ini yang dikuasai negara asing

Saturday, January 26, 2013

NAMA SUKU DIINDONESIA


NAMA SUKU DIINDONESIA
Meskipun ada teori yang menyebutkan bahwa bangsa Indonesia mempunyai nenek moyang yang sama, kenyataannya ada beraneka ragam suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia.Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah suku bangsa di Indonesia. Namun Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil sensus penduduk terakhir 2010, diketahui bahwa Indonesia terdiri dari 1.128 suku bangsa. Jumlah yang fantastis dari segi jumlah. Dapat dibayangkan betapa keaneka-ragaman suku bangsa di Indonesia. Hal ini antara lain disebabkan oleh:
  1. perbedaan ras asal,
  2. perbedaan lingkungan geografis,
  3. perbedaan latar belakang sejarah,
  4. perkembangan daerah,
  5. perbedaan agama atau kepercayaan, dan
  6. kemampuan adaptasi atau menyesuaikan diri.
Dari faktor-faktor di atas, faktor lingkungan geografis dan kemampuan adaptasi atau menyesuaikan diri sangat berpengaruh. Faktor lingkungan geografis yang menyebabkan keanekaragaman suku bangsa antara lain sebagai berikut.
  1. Negara kita berbentuk kepulauan. Penduduk yang tinggal di satu pulau terpisah dengan penduduk yang tinggal di pulau lain. Penduduk tiap pulau mengembangkan kebiasaan dan adat sendiri. Dalam waktu yang cukup lama akan berkembang menjadi kebudayaan yang berbeda.
  2. Perbedaan bentuk muka bumi, seperti daerah pantai, dataran rendah, dan pegunungan. Penduduk beradaptasi dengan kondisi geografis alamnya. Adaptasi itu dapat terwujud dalam bentuk perubahan tingkah laku maupun perubahan ciri fisik. Penduduk yang tinggal di daerah pegunungan misalnya, akan berkomunikasi dengan suara yang keras supaya dapat didengar tetangganya. Penduduk yang tinggal di daerah pantai atau di daerah perairan akan mengembangkan keahlian menangkap ikan, dan sebagainya. Perubahan keadaan alam dan proses adaptasi inilah yang menyebabkan adanya keanekaragaman suku bangsa di Indonesia.
Besar kecilnya suku bangsa yang ada di Indonesia tidak merata. Suku bangsa yang jumlah anggotanya cukup besar, antara lain suku bangsa Jawa, Sunda, Madura, Melayu, Bugis, Makassar, Minangkabau, Bali, dan Batak. Biasanya suatu suku bangsa tinggal di wilayah tertentu dalam suatu provinsi di negara kita. Namun tidak selalu demikian. Orang Jawa, orang Batak, orang Bugis, dan orang Minang misalnya, banyak yang merantau ke wilayah lain.
Meskipun dirasakan masih jauh dari jumlah yang sebenarnya, berikut adalah daftar nama-nama suku di Indonesia yang disusun secara alfabetikal, diurutkan berdasarkan nama suku, bukan nama wilayah. (Daftar ini belum lengkap dan anda dapat melengkapinya di sini) :

A
B
D
E
F
G
I
J
K
L
M
N
O
P
R
S
T
U
W

Friday, December 21, 2012

MENGHADAPI DUNIA GLOBAL


Nasionalisme berarti paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri, politik untuk membela pemerintah sendiri, atau kesadaran keanggotaan suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan indentitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan serta semangat bangsa.

Dulu, ketika bangsa ini masih menghadapi penjajahan Belanda dan Jepang, nasionalisme kita begitu melekat pada seluruh anak bangsa. Nasionalisme saat itu digunakan sebagai landasan untuk berjuang demi kemerdekaan dan melepaskan diri dari belenggu penjajah yang menguasai Indonesia beberapa abad lamanya.
Kini, diakui atau tidak nasionalisme bangsa saat ini hanya dimiliki oleh sebagian komponen bangsa Indonesia. seperti tentara, polisi, sebagian pejabat pemerintah, dan sebagian kecil rakyat Indonesia. Mengapa ini bisa terjadi? Semua itu karena adanya perubahan zaman.

Perubahan zaman telah mengikis nasionalisme kita sampai ke tingkat yang paling mengkhawatirkan. Pengikisan nasionalisme yang seharusnya melekat pada setiap sendi kehidupan anak bangsa ini, dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya; Pertama, berkembangnya pemahaman keliru bahwa yang mempunyai kewajiban membela bangsa dan negara adalah tentara (komponen utama pertahanan).

Kedua, hilangnya sikap antisipasi dan besarnya keyakinan bahwa Indonesia tidak mungkin akan mendapat ancaman sampai dengan 10 tahun ke depan. Ketiga, krisis ekonomi yang berkepanjangan membuat rakyat lebih suka berpikir bagaimana mencukupi kebutuhannya, daripada repot-repot memikirkan sebuah nasionalisme.
Keempat, terdapat gerakan-gerakan tersembunyi yang berupaya mengubah pola pikir rakyat, untuk selalu tidak puas terhadap kebijakan dan keputusan pemerintah, sehingga menghilangkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah, selanjutnya berkembang menjadi krisis kepercayaan pada diri sendiri.

Melihat kondisi bangsa yang semakin meninggalkan nasionalisme sebagai hal yang pokok dan harus dimiliki oleh bangsa ini, maka seluruh komponen bangsa khususnya yang masih memiliki jiwa nasionalisme tinggi, hendaknya mengampanyekan sekaligus mengajak dan mengimbau seluruh komponen bangsa untuk menggelorakan kembali rasa nasionalisme. Penurunan kadar nilai-nilai nasionalisme, cinta tanah air, bela negara dan militansi bangsa di dalam berbagai kehidupan rakyat patut kita renungkan bersama.

Setiap tanggal 14 Pebruari ada hiruk pikuk remaja dunia. Mereka punya hajat besar dengan merayakan sebuah hari yang dikenal dengan Valentine’s Day (Hari Valentine). Hiruk pikuk itu kini tidak lagi menjadi milik bangsa ataupun pemeluk agama tertentu namun telah menjadi gawe semua lapisan remaja dimanapun dan dengan agama apapun. Tak peduli itu di kalangan Kristen Barat, Hindu India ataupun muslim Indonesia. Valentine’s Day menjadi milik bersama dan setiap orang seakan wajib untuk merayakannya.
Ada pertanyaan yang patut kita kemukakan. Apa sebenarnya Valentine’s Day itu? Apakah esensinya? Dan bolehkan remaja muslim ikut berkecimpung merayakannya? Apakah perayaan itu bagian dari kultur dan peradaban Islam sehingga kita harus ikut menyemarakkannya?

Hari Valentine umat islam ?
Ada berbagai versi tentang asal muasal Valentin’s Day ini. Beberapa ahli mengatakan bahwa ia berasal dari seorang yang bernama Saint (Santo) Valentine seorang suci kalangan Kristen yang menjadi martir karena menolak untuk meninggalkan agama Kristiani. Dia meninggal pada tanggal 14 Pebruari 269 M., di hari yang sama saat dia menyerahkan ucapan cinta. Dalam legenda yang lain disebutkan bahwa Saint Valentine meninggalkan satu catatan selamat tinggal pada seorang gadis anak sipir penjara yang menjadi temannya. Dalam catatan itu dia menuliskan tanda tangan yang berbunyi “From Your Valentine” ada pula yang menyebutkan bahwa bunyi pesan akhir itu adalah ; Love From Your Valentine”.

Cerita lain menyebutkan bahwa Valentine mengabdikan dirinya sebagai pendeta pada masa pemerintahan Kaisar Claudius. Claudius kemudian memenjarakannya karena dia menentang Kaisar. Penentangan ini bermula pada saat Kaisar berambisi untuk membentuk tentara dalam jumlah yang besar. Dia berharap kaum lelaki untuk secara suka rela bergabung menjadi tentara. Namun banyak yang tidak mau untuk terjun ke medan perang. Mereka tidak mau meninggalkan sanak familinya. Peristiwa ini membuat kaisar naik pitam. Lalu apa yang terjadi? Dia kemudian menggagas ide “gila”. Dia berpikiran bahwa jika laki-laki tidak kawin, maka mereka dengan tidak segan-segan akan bergabung menjadi tentara. Makanya, dia memutuskan untuk tidak mengijinkan laki-laki kawin.

Kalangan remaja menganggap bahwa ini adalah hukum biadab. Valentine juga tidak mendukung ide gila ini. Sebagai seorang pendeta dia bertugas menikahkan lelaki dan perempuan. Bahkan setelah pemberlakuan hukum oleh kaisar, dia tetap melakukan tugasnya ini dengan cara rahasia dan ini sungguh sangat mengasyikkan. Bayangkan, dalam sebuah kamar hanya ada sinar lilin dan ada pengantin putra dan putri serta Valentine sendiri.Peristiwa perkawinan diam-diam inilah yang menyeret dirinya ke dalam penjara dan akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Walaupun demikian dia selalu bersikap ceria sehingga membuat beberapa orang datang menemuinya di dalam penjara. Mereka menaburkan bunga dan catatan-catatan kecil di jendela penjara. Mereka ingin dia tahu bahwa mereka juga percaya tentang cinta dirinya. Salah satu pengunjung tersebut adalah seorang gadis anak sipir penjara. Dia mengobrol dengannya berjam-jam. Di saat menjelang kematiannya dia menuliskan catatan kecil “Love from your Valentine.”

Dan pada tahun 496 Paus Gelasius menseting 14 Pebruari sebagai tanggal penghormatan buat Saint Valentine. Akhirnya secara gradual 14 Pebruari menjadi tanggal saling tukar menukar pesan kasih dan Saint Valentine menjadi patron dari para penabur kasih. Tanggal ini ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah seperti bunga dan gula-gula. Bahkan sering pula ditandai dengan adanya kumpul-kumpul atau pesta dansa.
Dari paparan di atas kita tahu bahwa kisah cinta Valentine ini merupakan kisah cinta milik kalangan Kristen dan sama sekali tidak memiliki benang merah budaya dan peradaban dengan Islam. Namun kenapa remaja-remaja muslim ikut larut dan merayakannya?
Ada beberapa jawaban yang bisa kita berikan terhadap pertanyaan tersebut :
Pertama, remaja muslim kita tidak tahu latar belakang sejarah Valentine’s Day sehingga mereka tidak merasa risih untuk mengikutinya. Dengan kata lain, remaja muslim banyak yang memiliki kesadaran sejarah yang rendah.
Kedua, adanya anggapan bahwa Valentine’s Day sama sekali tidak memiliki muatan agama dan hanya bersifat budaya global yang mau tidak mau harus diserap oleh siapa saja yang kini hidup di –untuk meminjam McLuhan—global village.
Ketiga, keroposnya benteng pertahanan relijius remaja kita sehingga tidak mampu lagi menyaring budaya dan peradaban yang seharusnya mereka “lawan” dengan keras.
Keempat, adanya perasaan loss of identity kalangan remaja muslim sehingga mereka mencari identitas lain sebagai pemuas keinginan mendapat identitas global.
Kelima, hanya mengikuti trend yang sedang berkembang agar tidak disebut ketinggalan zaman.
Keenam, adanya pergaulan bebas yang kian tak terbendung dan terjadinya de-sakralisasi seks yang semakin ganas.
Mungkin masih ada deretan jawaban lain yang bisa diberikan terhadapa pertanyaan di atas.

Islam, Cinta dan Hari Valentine
Bisa kita lihat pada bahasan di atas bahwa Valentine Day merupakan peringatan “cinta kasih” yang diformalkan untuk mengenang sebuah peristiwa kematian seorang pendeta yang mati dalam sebuah penjara. Yang kemudian diabadikan oleh gereja lewat tangan Paus Gelasius. Maka merupakan sebuah kurang cerdas jika kaum muslim—dan secara khusus kalangan remajanya—ikut melestarikan budaya yang sama sekali tidak memiliki ikatan historis, emosioal dan religius dengan mereka. Keikut sertaan remaja muslim dalam “huru-hura” ini merupakan refleksi kekalahan mereka dalam sebuah pertarungan mempertahankan identitas dirinya.
Mungkin ada sebagian remaja yang akan bertanya: Kenapa memperingati sebuah tragedi cinta itu tidak boleh dilakukan? Apakah Islam melarang cinta kasih? Bukankah Islam menganjurkan pemeluknya kasih pada sesama?

Tak ada yang menyangkal bahwa Islam tidak melarang cinta kasih. Islam sendiri adalah agama kasih dan menjunjung cinta pada sesama. Dalam Islam cinta demikian dihargai dan menempati posisi sangat terhormat, kudus dan sakral. Islam sama sekali tidak phobi terhadap cinta. Islam mengakui fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun demikian Islam tidak menjadikan cinta sebagai komoditas yang rendah dan murahan. Cinta yang merupakan perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihanya dengan penuh gairah, lembut dan kasih sayang dalam Islam dibagi menjadi tiga tingkatan yang kita tangkap dari ayat Al-Quran: Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kerabat-kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerusakannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu senangi lebih kau cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik (At-Taubah: 24)
Dalam ayat ini menjadi jelas kepada kita semua bahwa cinta tingkat pertama adalah cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya yang kemudian disebut dengan cinta hakiki, kemudian cinta tingkat kedua adalah cinta kepada orang tua, isteri, kerabat, dan seterusnya. Sedangkan cinta tingkat ketiga adalah cinta yang mengedepankan cinta harta, keluarga dan anak isteri melebih cinta pada Allah, Rasul dan jihad di jalan Allah.

Cinta hakiki akan melahirkan pelita. Cinta hakiki yang dilahirkan iman akan senantiasa memberikan kenikmatan-kenikmatan nurani. Cinta hakiki akan melahirkan jiwa rela berkorban dan mampu menundukkan hawa nafsu dan syahwat birahi. Cinta akan menjadi berbinar tatkala orang yang memilikinya mampu menaklukkan segala gejolak dunia. Cinta Ilahi akan menuntun manusia untuk hidup berarti dan setelah itu mati—untuk meminjam kata Khairil Anwar.
Islam memandang cinta kasih itu sebagai rahmat. Maka seorang mukmin tidak dianggap beriman sebelum dia berhasil mencintai saudaranya laksana dia mencinta dirinya sendiri (HR. Muslim), perumpamaan kasih sayang dan kelembutan seorang mukmin adalah laksana kesatuan tubuh; jika salah satu anggota tubuh terasa sakit, maka akan merasakan pula tubuh yang lainnya : tidak bisa tidur dan demam (Bukhari Muslim). Seorang mukmin memiliki ikatan keimanan sehingga mereka menjadi laksana saudara (Al-Hujarat: 13), dan cinta yang meluap sering kali menjadikan seorang mukmin lebih mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan (Al-Hasyr : 9 ).

Di mata Islam mencinta dan dicinta itu adalah “risalah” suci yang harus ditumbuhsuburkan dalam dada setiap pemeluknya. Makanya Islam menghalalkan perkawinan dan bahkan pada tingkat mewajibkan bagi mereka yang mampu. Islam tidak menganut “selibasi” yang mengibiri fitrah manusia seperti yang terjadi dalam ajaran Kristen dan Hindu, serta Budha yang menganut sistem sosial yang dikenal dengan kependetaan. Sebab memang tidak ada rahbaniyah dalam Islam.
Valentine Day yang merupakan ungkapan kasih selain “hamil” nilai-nilai relijus yang bukan bagian dari agama kita juga saat ini dirayakan dengan menonjolkan aksi-aksi permisif. Dengan lampu remang, dan lilin-lilin temaram. Peniruan pada perilaku agama lain dan sekaligus melegalkan pergaulan bebas inilah yang tidak dibenarkan dalam pandangan Islam.

Islam dan Perlawanan Budaya
Sebagai agama pamungkas Islam dengan tegas memposisikan diri sebagai agama yang diridhai Allah dan siapa saja yang ingin mencari agama selain Islam maka agamanya tidak akan diterima (Lihat: Ali Imran ayat 19 dan 185). Dan sebagai agama terakhir Islam telah melakukan beberapa pembenaran dari berbagai penyelewengan yang terjadi dalam agama Kristen dan agama Yahudi. Islam mengharuskan pemeluknya untuk membentengi diri dari semua budaya yang datang dari kalangan Yahudi dan Kristen. Kaum muslimin harus memiliki budaya dan identitasnya sendiri yang bersumber pada norma dan ajaran agamanya.
Setelah kita mengetahui bahwa Valentine’s Day sama sekali tidak memiliki kaitan sejarah dengan Islam, maka menjadi tugas semua remaja Islam untuk menghindari dan tidak ikut serta dalam sebuah budaya yang tidak bersumber dari ajarannya. Valentine’s Day bukanlah simbol dan identitas remaja muslim karena ia merupakan hari raya kalangan remaja Kristen. Dan kita persilahkan saudara-saudara kita dari remaja kalangan Kristen untuk merayakannya sesuai dengan keyakinan mereka.

Ada satu hadits yang sangat terkenal yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah bersabda: Barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari mereka (Abu Daud). Hadits ini mengisyaratkan bahwa meniru-niru budaya-reliji orang lain yang tidak sesuai dengan tradisi Islam memiliki resiko yang demikian tinggi sehingga orang tersebut akan dianggap sebagai bagian dari orang yang ditiru.
Sebagaimana juga firman Allah, Barang siapa diantara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonga mereka (Al-Maidah: 51). Sabda Rasulullah, “Kau akan bersama-sama dengan orang yang siapa yang kau cintai” (Bukhari Muslim).

Banyak contoh yang bisa kita kemukakan dari kontra-kultural yang dilakukan Rasulullah untuk mengokohkan identitas umatnya. Saat Rasulullah datang ke Madinah dia melihat penduduk Madinah bersuka ria dalam dua hari. Kemudian Rasulullah bertanya: Hari apa dua hari itu? Pada sahabat menjawab: Dua hari tadi adalah hari dimana kami bermain-main dan bersuka cita di masa jahiliyah! Maka bersabdalah Rasulullah: Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian: Iedul Adha dan Iedul Fithri. (HR. Abu Daud) Rasulullah misalnya melarang umatnya makan dengan tangan kiri karena cara itu adalah cara makan syetan. (HR. Muslim)
Larangan Rasulullah untuk kembali memperingati 2 hari dimana orang-orang Madinah biasa bermain di zaman jahiliyah merupakan perlawanan budaya terhadap budaya jahilyah dan digantikan dengan budaya-reliji baru. Sedangkan pelarangannya agar tidak makan dengan tangan kiri juga merupakan perang etika Islam dengan etika syetan.

Allah tidak menghendaki kaum muslimin menjadi “buntut” budaya lain yang berbenturan nilai-nilainya dengan Islam. Peringatan Allah pada ayat di atas membersitkan pencerahan pada kita semua bahwa Islam dengan ajarannya yang universal harus dijajakan dengan rajin pada dunia mengenal Islam dengan cara yang benar dan agar Islam menjadi “imam” peradaban dunia kembali. Sebab kehancuran peradaban Islam telah menimbulkan kerugian demikian besar pada tatanan normal manusia yang terkikis secara moral dan ambruk secara etika.
Kemunduran peradaban Islam telah menjebak dunia pada arus kegelapan akhlak dan moralitas. Kehancuran peradaban Islam ini oleh Hasan Ali An-Nadawi dianggap sebagai malapetaka terbesar dalam perjalanan peradaban manusia. Dia berkata, “Kalaulah dunia ini mengetahui akan hakikat malapetaka ini, berapa besar kerugian dunia dan kehilangannya dengan kejadian ini, pastilah dunia hingga saat ini akan menjadikan kemunduran kaum muslimin sebagai hari berkabung yang penuh sesal, tangis dan ratapan. Setiap bangsa di dunia ini akan mengirimkan tanda berduka cita…

Apa yang menimpa remaja muslim saat ini tak lebih dari dampak keruntuhan peradaban Islam yang sejak lama berlangsung. Remaja muslim masa kini yang “buta” terhadap peradabannya sendiri diakibatkan munculnya serangan budaya yang gencar menusuk jantung pertahanan budaya kaum muslimin. Kemampuan mereka untuk bertahan dengan ideal-ideal Islam yang rapuh menjadikan mereka terseret arus besar peradaban dunia yang serba permisif, hedonis dan materialistik. Lumpuhnya pertahanan mereka terhadap gencarnya serangan budaya lain yang terus menggelombung menjadikan mereka harus takluk dan menjadi “budak” budaya lain.
Maka sudah saatnya bagi remaja muslim untuk memacu diri melakukan gerilya besar dengan mengusung nilai-nilai Islam sehingga dia mampu mengendalikan diri untuk tidak terpancing apalagi larut dengan budaya-reliji lain. Generasi muda muslim hendaknya mampu membangun benteng-benteng diri yang sulit ditembus oleh gempuran-gempuran perang pemikiran yang setiap kali akan mengoyak-ngoyak benteng pertahanan imannya.

Perlawanan budaya ini akan bisa dilakukan jika remaja muslim mampu mendekatkan dirinya dengan poros ajaran Islam dan mampu melakukan internalisasi diktum-diktum itu ke dalam kalbu, dan sekaligus terejawantahkan ke dalam aksi. Remaja muslim yang mampu menjadikan keimanannya “hidup” akan mampu bergumul dan bahkan memenangkan pertarungan yang sangat berat di hadapannya. Remaja muslim yang dengan setia menjadikan Al-Quran dan Hadits sebagai panduan hidupnya akan mampu menjadi seorang muslim tahan banting dan imun terhadap virus budaya global yang mengancam identitasnya. Seorang remaja muslim yang menjadi the living Quran akan mampu melakukan kontra aksi terhadap semua tantangan yang dihadapinya. Dia akan mampu menangkis serangan informasi satu arah yang kini datang dari Barat.
Apa yang mesti dilakukan oleh kalangan muda Islam di zaman serba kompleks ini?

Dalam pandangan saya tidak ada yang lebih baik untuk dilakukan kecuali kita semua kembali merapatkan jiwa dan kesadaran kita ke akar norma agama kita sendiri, lalu kita gali sedalam-dalamnya, kita renungkan semaksimal mungkin, kita aplikasikan dalam hidup ini. Dan kita pasarkan ajaran-ajaran Islam itu dengan sepenuh raga dan jiwa. Hanya dengan spirit berjuang yang tinggi dan komitmen yang kuat remaja muslim akan lahir kembali dalam sosok yang cemerlang dengan Islam sebagai panji.

Mari kita bersama-sama terus menjaga negara kita indonesia secara umum dan Nusa Tenggara Barat pada Khususnya,agar mampu bertahan dengan dan bisa,membuat suatu pilter dalam melawan arus budaya barat yang semakin mendesak,,,Tanamkan jiwa rasa cinta tanah air,jiwa cinta Gumi Sasak Lombok yang kuat,agar cakram-cakram Budaya budaya barat yang negatip mampu kita patahkan bersama,,,,,,,,,,,,,!!!!!!